CHELSEA VS MU

Semakin seru saja perebutan titel juara Premiership musim ini, semakin gemes aja sama penampilan MU yang belum beranjak kepada permainan dan semangat yang positif. Dimulai dari ditahan imbang Blackburn, trus memaksakan hasil 0-0 lawan Barcelona, sampai kemarin harus gigit jari poinnya disamai oleh Chelsea. Ya emang sih ga mesti sedih dan gigit jari sekeras-kerasnya, sebab toh masih MU yang mimpin klasemen dengan keunggulan selisih gol (dan rasanya sulit dikejar oleh Chelsea). Tapi saya tetap aja kesel, udah kalah 2-1, gol MU pun bukan dari permainan terbuaka nan ciamik, bukan dari skenario untuk membunuh kiper lawan, tapi itu sama saja hadiah dari chelsea, sekedar pelipur lara. Sedangkan gol chelsea yang pertama benar-benar melalui skema yang cantik dan jenius, dan gol keduanya sebagai buah dari tekanan yang diberikan secara beruntun dan konsisten.
MU? babak pertama waduh… babak kedua sih lumayan bisa beri perlawanan dikit. ya walau banyak pihak yang geram dengan keputusan penalti yang akhirnya chelsea jadi pemenangnya.

MU 81 74-21 53 Jadi selisih gol MU-Chelsea adalah 16
Chelsea 81 62-25 37

Kalau asumsi dua laga sisa sama-sama dapat memenangkannya, MU lah juaranya, pasalnya chelsea usah mengejar selisih gol tersebut.
Akan tetapi kalau chelsea mempertahankan permainan seperti kemarin, bukan mustahil memang akan menang melawan NewCastle dan Bolton, pasalnya NewCastle sudah tidak ada pengaruhnya di klasemen, ngejar ke eropa juga ga, takut degradasi juga sudah aman sepertinya, jadi saya pikir chelsea ga akan kesulitan untuk menang. Pada laga terakhirnya cuman lawan Bolton. Walapun semangat menang anak-anak Bolton pasti sangat tinggi untuk mengamankan tidak terdegradasi, tetapi sepertinya tidak akan sanggup menahan gempuran penyerang-penyerang chelsea.
MU sendiri pekan depan akan menjamu West Ham (harga mati harus menang), adalah lawan yang sulit dijinakkan oleh MU, Manager West Ham adalah pembunuh SAF, ya benar saja terakhir saja MU kalah, nah sepertinya pertandingan ini akan berakhir imbang. Dan pada pertandingan terakhir tandang ke JJB Stadium melawan Wigan spertinya tidak akan susah untuk meraih kemengan disana sambil berharap chelsea seri atau kalah dari bolton, walaupun Wigan terbukti bisa menahan arsenal dan chelsea.
Ya seperti itulah kira-kira perkiraan saya bahwa musim ini memang layak chelsea menjadi juara premiership dengan stabilitas penampilannya. Seperti diketahui awal-awalnya penampilan chelsea sangat mengkhawatirkan disertai terjadinya polemik di staf kepelatihannya yang berimbas pergantian manager, membuat kita melihat persaingan menuju tahta hanya Arsenal dan MU, chelsea masih jauh dibawah (bahkan jarang dilirik atau dicoret dari perburuan juara). Eh nyatanya, Arsenal yang kehabisan tenaga, dan tidak konsistennya permainan MU membuat Chelsea merupakan kandidat kuat untuk juara saat ini. Berhasilnya chelsea mengejar defisit poin pun adalah buah dari permianan yang konsisten. Jadi saya pikir wajar hasil yang diraih chelsea saat ini. Ya semoga yang juara benar-benar tim yang pantas juara, tim yang menyuguhkan permainan membunuh nan cantik yang konsisten. Ayo MU bangkit lagi… kamu bisa…

2015 Imam Mahdi Akan Datang

Judul lengkapnya kalau ga salah, Oktober 2015 Imam Mahdi akan datang, karya Jaber Bloushi, sayang saya tidak bisa menemukan referensi tentang biografi beliau, pendidikannya apa, condongnya ke mahzab mana, karya-karya apa aja, tetapi yang banyak di blog tu perdebatan antara setuju/tidak setuju dengan buku tersebut dan percaya/tidak percaya dengan ramalan itu.
Saya sendiri pas maen ke gramedia tertarik untuk melihatnya sekilas, wah rda asyik juga bahasannya pikirku, akhirnya saya beli beserta buku lainnya, nyampe rumah mulai deh bacanya.
Biasanya saya tuh kalo baca buku suka semangat banget, trus cepet nyerap ke pikiran, walau ga hafal-hafal amat, sehingga dari hal itu cepet baca bukunya. Buku apa aja, novel, biografi, ttg duniaku yaitu informatika, buku pencerahan jiwa, buku-buku tafsir, apalagi buku humor.
Tapi oh tetapi pas baca buku Jaber Bolushi itu, koq progressnya lama banget, dan hati kecil ini koq susah nerimanya, dan pikiran saya koq pengen berpaling dari tuh buku, ah akhirnya saya berhenti bacanya di lembar ke-7. Ya biarlah nanti saja lagi bacanya.
Duhai Allah limpahkan rahmat serta hidayahmu kepada hamba-hambamu dalam mencari ilmu. Amin Ya Rabbal ‘Alamin………….

FROM ERA MUSLIM DOT COM

INI ADA BAHAN RENUNGAN BAGUS>>

Ahmad Heriyawan, Ustadz yang Jadi Gubernur

Selasa, 15 Apr 08 07:38 WIB

Kirim teman

Assalaamu’alaykum warrahmatullaahi wabarakaatuhu

Ustadz yang saya hormati, alhamdulillah, di tengah berlanjutnya (entah sampai kapan?) polemik demokrasi di kalangan umat Islam, pasangan calon dari parpol Islam yang lahir dari kawah reformasi, “berhasil” meraih kemenangan di salah satu pilkada terbesar di Indonesia. Melihat pemaparan Ustadz tentang lembaga pendidikan yang jadi almamater salah satu calon, optimisme saya semakin tumbuh bahwa memang kapabilitas beliau “jaminan mutu.”

Banyak sementara ini (dalam waktu singkat begiut quick count diumumkan) analisis yang dikemukakan pengamat sampai orang awam. Bagaimana analisis/apresiasi Ustadz terhadap (sebab2) kemenangan kombinasi Ustadz-Artis itu serta pelajaranyangbisa diambil?

Bagaimana sebenarnya tuntunan Islam dalam menyikapi teraihnya kemenangan kepemimpinan? Apakah dengan hamdalah atau istighfar? Apa sujud syukur atau tangis? Ataukah lebih dari sekedar itu?

Bagaimana juga tuntunan Islam terkait peran rakyat sebagai yang dipimpin? Apa sajakah peran signifikan yang bisa dilakukan untuk perubahan setelah mencoblos di bilik suara?

Terus, apakah bisa jadi, terkait tingginya golput, itu merupakan bukti keberhasilan dakwah HT dan Salafy?

Terakhir, semoga Ustadz senantiasa bertulushati memberi taushiyah langsung kepada sang Uztadz Gubernur kelak, kan sekalian juga jadi arena praktikum nyata kuliah-kuliah Politik Islam di kampus…(afwan, bukan bermaksud lancang).

Jazakumulah khayran katsiira…

Wassalaamu’alaykum warrahmatullaahi wabarakaatuhu.

Zakaria Ahmad

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Al-Ustadz Ahmad Heriyawan, Lc, sang peserta PILKADA JABAR yang disebut-sebut akan menjadi Gubernur Jawa Barat memang lulusan dari LIPIA. Kami secara pribadi memang mengenal beliau, bukan semata-mata karena satu almamater, tetapi memang beliau teman kami dalam berdakwah, sejak tahun 90-an.

Bahkan beliau yang asal Sukabumi pernah mengajak kami ziarah ke kampung halamannya, bertemu dengan keluarga dan murid-murid beliau. Kami berdakwah bersama dan mabit bersama. Meski beliau telah lulus terlebih dahulu, karena memang beda angkatan kuliah cukup jauh.

Yang kami kenal dari pribadi beliau adalah bahwa beliau orang baik, lulus LIPIA dengan nilai yang juga memuaskan. Pemahaman syariah beliausangat baik, tentunya beliau sangat fasih berbahasa Arab dan melek literatur kitab gundul, selain itu beliau juga seorang pembelajar yang cepat.

Jarang-jarang ada lulusan LIPIA yang bisa dengan cepat belajar bidang kehidupan lainnya. Dan ketika beliau terpilih menjadi anggota DPRD DKI, tentu sebuah loncatan yang cukup besar, karena ilmu yang beliau terima secara formal dari bangku kuliah tentu saja tidak pernah mengajarkan dinamika kehidupan seorang wakil rakyat.

Diskursus: Dakwah Inside atau Outside?

Yang kami pahami dari apa yang sedang diupayakan oleh beliau dan teman-teman adalah memperjuangkan tegaknya nilai agama Islam lewat jalur internal kekuasaan. Ini yang kami sebut kemudiandengan teori ‘dakwah inside’.

Pada dasarnya tidak ada yang menampik pentingnya umat Islam berjuang di wilayah ini. Dan tentunya akan jauh lebih efektif ketimbang sekedar berjuang dari luar (Ouside), yang jangkauannya hanya sekedar menghimbau kepada penguasa, atau sekedar mengkritik, memberi masukan, atau sekedar bersorak sorai, ibarat penonton sepak bola.

Kadang-kadang tepuk tangan para suporter di pinggir lapangan memang dibutuhkan, untuk memberi masukan dan semangat. Akan tetapi pada akhirnya, permainan akan sangat tergantung dari para pemain yang ada di lapangan.

Perjuangan umat Islam sejak dulu masih sebatas penonton yang bersorak sorai dari pinggir lapangan. Aspirasi mereka paling jauh hanya dititipkan kepada orang-orang yang mereka kenal sepintas, tanpa punya visi dan idealisme yang jelas. Maklumnya, kancah politik memang diisilebih banyakoleh kalangan oportunis yang sekedar mengejar keuntungan sesaat.

Maka teori dakwah sebagian teman-teman kita itu adalah masuk langsung ke kancah politik praktis. Atau istilahnya ‘mengambil alih’ lapangan dari yang tadinya hanya sekedar menjadi penonton di pinggir garis lapangan. Logikanya sederhana saja, yaitu masuk ke dalam, ambil alih dan perbaiki dari dalam. Jauh lebih sederhana dari pada bikin negara baru yang tentunya merupakan makar dan subversi.

Dakwah Outside

Namun jugaharus diakui bahwa teori seperti ini masih seringkali diperdebatkan oleh banyak kalangan. Sebagian kalangan muslim ada yang apatis, seperti yang anda sebutkan, yaitu Hizbut Tahrir, Salafi atau kalangan lainnya. Sikap apatis mereka ini mungkin bisa diterangkan begini: rumah ini sudah sangat rusak dan hanya barang rongsokan, dari pada diperbaiki yang akan membutuhkan resourses besar, mendingan dirobohkan sekalian, lalu dibikin lagi dari awal bangunan baru.

Mereka ini kita sebut sebagai aliran atau mazhab Outside.

Fenomenanya, banyak dari mereka yang tidak mau ikut pilkada atau pemilu, karena mereka menganggap bahwa pekerjaan memperbaiki rumah rongsok akan sia-sia saja.

Tentu semua itu adalah pilihan, atau kalau dalam istilah fiqih yang akrab di telinga kita, semua itu adalah ijtihad. Yah, namanya ijtihad, bisa benar dan bisa salah. Tentu masing-masing mazhab punya hujjah dan argumentasi. Dan tidak layak buat kita untuk mencaci maki pihak yang punya ijtihad berbeda dengan ijtihad kita sendiri.

Apalagi kita tahu bahwa masing-masing ijtihad itu punya konsep, hujjah, metodologi dan juga pendukung. Tentu akan menjadi lucu kalau kita malah berantem dan bermusuhan dengan sesama muslim, hanya lantaran ijtihadnya berbeda. Kalau dalam ilmu fiqih ibadah kita bisa bertoleransi, lalu kenapa dalam fiqih politik kita agak gamang untuk bertoleransi.

Pro Kontra

Terus terang ketika Al-Akh Heriawan mulai nampak unggul dalam Quick Count kemarin, kami sempat ngobrol lewat chating dengan beberapa pihak yang selama ini boleh dibilang agak mewakili kalangan yang ijtihadnya berbeda.

Komentar mereka beragam, ada yang bilang bahwa kemenangan HADE itu hanya karena faktor Dede Yusuf yang seorang aktor, yang lain bilang bahwa itu hanya sebuah fenomena anomali saja, yang lain bilang itu istidroj, entah maksudnya apa. Dan yang lainnya lagi bilang bahwa ‘kemenangan’ itu karena faktor ‘lucky‘, lantaran para mesin kampanye pesaingnya kurang tenaga.

Tentu kami bisa memaklumi komentar-komentar seperti ini, karena wajar saja mereka bilang begitu, sebab secara ijtihad, mereka memang tidak mendukung hasil ijitihad Al-Akh Heriyawan dan teman-temannya.

Tapi kemenangan mereka sebenarnya memang boleh dibilangcukup mengejutkan. Yang merasa terkejutbukan hanya di kalangan ’seberang jalan’, tapi juga di kalangan ‘rumah sendiri’. Awalnya memang banyak yang merasa miris atau malah sangat pesimis, tapi ketika hasil malah menang, diskusi jadi semakin hangat.

Jalan Tengah

Kalau melihat dua sisi pendakatan yang berbeda dari sesama para aktifias dakwah, rasanya kita perlu sebuah jalan tengah. Jalan tengah ini bukan plin-plan, tetapi justru tidak fatalis. Tidak secara ekstrim menolak satu pendapat dan juga tidak secara sepenuhnya mendukung satu pendapat.

Setidaknyamenurut anggapan kami yang terbaik adalah kita mencari jalan tengah. Bentuknya mendukung yang sekiranya memang perlu didukung dan menahan apa yang sekiranya perlu ditahan. Tidak ekstrim dan pasrah bongkokan.

Kita harus menghormati setiap ijtihad yang berkembang, tanpa harus bersikap negatif atas apa yang sekiranya berbeda. Dengan beberapa tekad kuat di dalam dada yang harus kita tanam, antara lain:

1. Menghindari Berbantah-bantahan Dengan Sesama Duat

Kalau kita kita tidak berhenti dari berdebat dan berbantah-bantahan dari tema inside dan outside ini, maka lama kelamaan kita sendiri yang akan perang saudara. Bukannya berjuang menegakkan dakwah, kita malah jadi pembangkang nilai agama kita sendiri.

Dahulu para shahabat nabi juga pernah berbantah-bantahan seperti ini. Bukan karena niat mereka buruk, tapi karena sudut pandang mereka tidak jadi satu. Maka dari langit turun taujih rabbani:

Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfa: 46)

Jangan sampai kita malah berakhlaq yahudi, dengan asyiksaling berbantahan sendiri dengan sesama pejuang dakwah. Sementara Al-Quran menceritakan bagaimana dahulu Bani Israel berbantah-bantahan sesama mereka, yaitu pada saat genting di mana mereka harus menghadapi kekuatan Fir’aun.

Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka dan mereka merahasiakan percakapan. (QS. Thaha: 62)

2. Berhenti Dari Saling Mencela

Berbantah-bantahan di atas kalau tidak segera dihentikan, biasanya akan menjalar menjadi saling caci, saling cela, saling maki dan saling menghina.

Akan sangat disayangkan kalau majelis-majelis taklim yang awalnya digunakan untuk mempelajari ilmu Allah dan sunnah Rasul-Nya, kadang ganti channel menjadi kajian untuk menjelek-jelekkan tokoh yang dianggapnya berseberangan ijtihad politik.

Majelis yang seharusnya didengar di dalamnya firmanAllah, jangan sampaiberubah jadi majelis untuk mendengarkan perkataan manusia, lengkap dengan hawa nafsunya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Hujurat: 11)

3. Hindari Prasangka Buruk

Terkadang sikap yang sangat ekstrim lahir dari prasangka buruk antar sesama pejuang dakwah. Yang satu menuduh temannya salah, yang dituduh tidak terima, balas menuduh saudaranya salah.

Yang satu menuduh bahwa dakwah lewat jalur politik hanya sekedar kedok belaka, padahal sebenarnya semata-mata hanya kepentingan duniawi, bergelimang dengan harta, pamer kemewahan, mengikuti hawa nafsu, baik nafsu kekuasaan atau nafsu ‘kawin lagi’.

Yang dituduh tidak terima, lalu bereaksi dengan segala improvisasi yang sekiranya memuaskan rasa ketersinggungannya. Dan ganti menuduh bahwa para penuduhnya adalah ‘barisan tua’ yang sakit hati karena tidak punya potensi.

Pendeknya, prasangka buruk itu memang ajaib, sekali satu pihak melontarkannya, maka akan langsung meletup menyambar-nyambar ke sana kemari, persis bensin dilempari puntung rokok.

Padahal kita masih aktif membaca Al-Quran, dan salah satunya yang masih terngiang saat kami menuliskan tulisan ini menjelang adzan shubuh adalah firman Allah berikut ini:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat: 12)

Sebagai muslim, kami agak merinding kalau mendengar ayat ini, sebab permisalan yang Allah SWT gambarkan memang sadis sekali. Ketika kita berburuk sangka kepada saudara kita, lalu menggunjingkannya, atau mencari-cari titik kelemahannya, kita dikatakan seperti sedang memakan daging saudara kita itu. Benar-benar kanibal akhlaq seorang muslim ketika melakukannya.

Pesan Buat ‘calon’ Gubernur

Kami memang agak lama tidak bertemu langsung dengan Al-Akh Ahmad Heriyawan, mungkin karena kesibukan masing-masing. Tapi lepas dari kami ikut mazhab yang mana, apakah inside atau outside, namun sebagai muslim, beliau adalah saudara kami.

Kalau seandainya jabatan Gubernur Jawa Barat itu memang jadi dibebankan ke pundaknya, tentu saja kami yakin beliau tidak akan menyebutnya sebagai kenikmatan. Kami yakin beliau akan menyebutnya amanat, beban, taklif, dan tentunya sebuah pertaruhan besar.

Bagaimana tidak, beliau akan bekerja under preassure. Dan tekanan itubukan saja dari kalangan ’seberang jalan’, tetapi juga dari dalam ‘rumah sendiri’. Maka beliau sekarang ini ibarat orang berjalan di atas titian rambut dibelah tujuh.

Maka sebagai muslim, ada beberapa tips yang mungkin beliau akan bisa mempertimbangkannya. Misalnya:

1. Pola Hidup Sederhana

Beliau lahir dari kalangan orang biasa, bukan orang yang kaya raya. Jadi kalau sekedar berpola hidup sederhana, merakyat, dan dekat dengan kalangan bawah, tentu bukan masalah besar.

Kami masih ingat ketika dahulu sama-sama makan di warteg karena kelaparan. Jadi kalau sekarang sering-sering makan di warung makan rakyat, dengan lauk seadanya, pasti bukan hal yang sulit.

Cerita tentang Said bin Amir, Gubernur Himsh di masa khilafah Umar bin Al-Khattab, yang hanya punya satu baju, pasti pernah beliau baca. Karena kisah itu ada di buku Al-Arabiyyah lin Nasyiin jilid 5. Sebuah kitab pelajaran bahasa Arab yang menjadi pegangan semua mahasiswa LIPIA di masa itu.

Kenapa kami mulai dari gaya hidup sederahana?

Karena boleh jadi janji beliau untuk mensejahterakan rakyat tidak kesampaian, karena ruwetnya birokrasi yang sudah jadi mafia tersendiri. Pada saat rakyat kelaparan, maka kalau pak Gubernurnya juga ikut kelaparan, rakyat pun akan memaklumi.

Tapi kalau rakyat kelaparan, sementara mereka lihat pak Gubernur lagi asyik makan-makan dengan kolega di restoran mewah di Bandung, itu namanya mushibah kubro.

Maka sesekali bikin sensasi tidak mengapa, kan? Misalnya, beliau menerima tamu bukan di kantor Gubernur, tapi di tengah rumah-rumah kumuh rakyat Jawa Barat, atau di tengah timbunan sampah yang menggunung dan pernah memakan korban di Bandung. Di sanalah seharusnya pak Gubernur berkantor, yaitu di tengah problem yang sebenarnya.

Jangan kalah dengan Ahmadinejat yang konon rumahnya berdinding bata tanpa plesteran. Dan tidak perlu ke Iran untuk sekedar mencari tokoh pujaan, wong di negeri sendiri juga ada. Bisa bahasa sunda lagi.

2. Perang Lawan Mafioso Membangun SDM

Sudah bukan rahasia lagi bahwa pusat penyamun di negeri ini bukan di daerah kumuh, tapi justru adanya di pusat pemerintahan. Perampok, penjahat, kriminalis, penodong, penjarah dan penipu tidak berkumpul di dalam penjara, tapi mereka justru berada di pusat-pusat kekuasaan.

Jadi Al-Akh Heriayawan dan Dede Yusuf akan dikelilingi oleh para gembong mafioso, yang berpengalaman puluhan tahun, bahkan turun temurun. Kalau perlu dengan hasil penjarahan mereka selama ini, Jawab Barat bisa dibeli.

Pilihannya ada tiga: ikut bergabung jadi bagian integral dari gabungan para mafia itu, atau perang habis-habisan sampai tetes darah penghabisan, atau main mata dan setengah-setengah.

Kita belum tahu apa jurus yang akan dipakai, dan mana pilihan yang akan disepakati. Seharusnya sih pilihan kedua, yaitu perang habis-habisan sampai tetes darah penghabisan melawat para mafia. Pecat dan bubarkan gerombolan mafioso birokrasi itu dan siapkan penjara. Potong sampai ke akar-akarnya, biar tidak tumbuh lagi.

Tapi karena tingkat dukungan yang mereka punya tidak maksimal, boleh jadi semua kebijakan dan itikad baik mereka ‘diveto’ oleh teman-temannya para mafia. Nah, ini berarti tantangan tersendiri. Pilih perang Bubat atau main mata.

3. Membangun SDM

Tapi satu hal yang perlu dipikirkan segara adalah membangun SDM secara khusus untuk menjadi pegawai pemda Jawa Barat ke depan. Para mafioso tidak akan berkutik kalau para pegawai pemdanya bukan orang, tapi ‘malaikat’, setidaknya ’setengah malaikat’.

Sehebat-hebatnya dan seustadz-ustadznya sang Gubernur, kalau pegawai pemdanya masih ‘orang’, pasti akan berputar-putar dan jalan di tempat. Prinsipnya, ganti dulu pegawai pemda dengan bukan orang, tapi ‘malaikat’.

Dari mana bisa didapat malaikat di abad 21 ini? Dari langit?

Tidak, wujud pisiknya tetap manusia, tapi hatinya yang malaikat. Dan orang-orang jujur dan baik serta bermoral masih ada di penghujung kiamat ini.

Carilah mereka, sejak dari masih bibitnya. Kuliahkan mereka di sebuah kampus khusus untuk mencetak bibit unggul dakwah, yang secara khusus nantinya akan menjadi pegawai pemda.

Idealnya kampus mereka berisi mahasiswa unggulan dengan IPK tertinggi se Jawa Barat, diajar oleh para doktor ahli syariah, para huffadz (penghafal Quran), para muhaddits (ahli hadits), para pakar ahli hukum tata negara, dan beragam ilmu lain yang diperlukan. Tentunya materi akhlaq, moral, kejujuran, kesederhanaan, kepedulian kepada rakyat miskin menjadi ‘mata kuliah’ MKDU. Menyebutnya gampang, pokoknya yang tidak ada di IPDN.

Diharapkan nantinya akan lahir PNS-PNS yang ’setengah malaikat’, yang tidak doyan duit tapi doyan pahala.

Yang mentalnya digodok seperti Umar bin Al-Khattab dan para gubernurnya. Yang terobsesi untuk punya ‘baju satu kering di badan’. Yang tidak mempan sogokan karena isterinya pun tidak doyan belanja. Yang akan mematikan lampu kalau bicara urusan di luar kepentingan negara, karena minyak lampu itu dibiayai negara.

Yakinlah bahwa kampus seperti ini bisa diciptakan, asalkan punya tekat kuat. Tidak boleh ada orang jadi pegawai Pemda kecuali telah lulus dari kampus ini. Dan tidak ada yang lulus kecuali telah menjadi ’setengah malaikat’.

Pegawai negeri biasa jelas tidak bisa diandalkan, apalagi hanya dengan cara diseleksi lewat psikotest yang buku jawabannya dijual bebas di toko buku. Sama sekali tidak ada jaminan moral dan jiwa kepemimpinan. Sejak sebelum masuk jadi PNS sudah berhutang duit banyak untuk menyogok, dan ketika sudah jadi PNS maka misi utamanya adalah bayar hutang plus keuntungan. Bejat dan bejat sangat.

4. Segera Bayar Hutang Secara Cash

Kalau tidak salah biaya kampanye pilkada sampai 12 milyar, setidaknya itu yang dikemukakan ke muka pers. Pertanyaannya, uang sedege itu pasti ada taruhannya plus ‘harapan’.

Logikanya, sangat tidak mungkin ada pihak yang mau membiayai dana sebesar itu kalau bukan ada apa-apanya di belakang. Maka saran kami, segera saja bayar uang itu secepatnya, agar si investornya tidak minta ini dan itu.

Sebabyang berbahaya justru tagihan minta ini dan minta itu dari para investor. Inilah yang membuat penguasa sekarang sangat gamang ketika bertindak, karena ‘terjerat’ hutang kepada para pedagang. Banyak rejim penguasa tidak berani bertindak tegas kepada para pedagang, karenaberhutang budi kepada para pedagang yang dengan ‘tidak ikhlas’ telah memodali biaya kampanye.

Tentu kompensasi adalah harapan para pedagang, dan itu akan sangat mengganggu kinerja penguasa. Jadi saran kami, bayarkan secepatnya hutang kepada para pedagang mereka, dan setelah itu pecat mereka semua secepatnya.

Biar tidak mengganggu stabilitas kebijakan dalam kepemimpinan ke depan. Biar tidak ada lagi ‘main mata’ dengan para pengusaha nakal dan liar itu.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Hidup Kok Muter-muter…

Hijrahlah Kepada Allah dan RasulNya

Janganlah engkau berjalan dari satu alam ke alam lain, sehingga seperti binatang himar yang berputar, mengitari gilingan. Tempat ia berangkat adalah tempat yang ia tuju. Namun berangkatlah dari satu alam menuju pencipta alam, : (Dan kepada Tuhanmulah tempat tujuan akhir). Renungkan sabda Rasulullah SAW, “Siapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Siapa yang hijrahnya demi dunia, ia akan meraihnya, atau kepada wanita, ia dapat menikahinya. Hijrah seseorang tergantung apa yang dijadikan tujuan hijrahnya. Pahamilah sabda Nabi itu, bahwa hijrah itu tergantung apa yang dijadikan tujuan hijrahnya. Renungilah persoalan ini, jika anda punya pemahaman yang benar.”

Tidak ada kehidupan yang sia-sia, ibadah yang hampa, melainkan jika anda berjalan dari alam ke alam lain, sama sekali tidak menuju kepada Pencipta alam semesta. Kenapa diibaratkan pada himar itu? Sebab yang dicari himar tidak lebih dari upahnya, yaitu bisa makan dan minum dari tuannya. Apakah kita beribadah juga hanya mencari upah dari Allah? Bukan menuju kepada Allah dan menghadap kepadaNya?

Fakta menunjukkan mayoritas orang beribadah kepada Allah, bukan demi dan menuju Allah, tetapi demi kepentingan dirinya, demi kepentingan dunianya, bahkan demi akhirat. Padahal demi diri, demi dunia dan demi akhirat, semuanya itu termasuk alam, yaitu ciptaan Allah Ta’ala. Jika demikian kita akan mengalami kesulitan Liqa’ Allah (bertemu allah), karena kita tidak menuju kepadaNya.

Mestinya kita menyadari bahwa kita ini berasal dari Allah, dan kemana lagi kalau bukan menuju kepada Allah?

Hikmah ini sungguh menegur kita. Betapa banyak yang kita lakukan atas nama Allah, atas nama agama, atas nama perjuangan, tetapi tidak tertuju kepada Allah, namun demi kepentingan hawa nafsu kita sendiri.

Seluruh ubudiyah kita harus kita hijrahkan kepada Allah dan RasulNya. Kepada Allahlah orientasi amal ibadah kita, dengan cara mengikuti jejak Rasulullah SAW, demi cintaNya dan cinta KekasihNya itu.

Segala hal selain Allah dan RasulNya sungguh sia-sia dan hampa. Selama ini barangkali ada ketakutan dan kekawatiran jika orientasi anda adalah Allah dan RasulNya, kemudian anda kehilangan pekerjaan dan rizki Allah. Padahal sebaliknya, jika kita kerja, berbuat apa saja, demi Allah dan membela Rasulullah SAW, justru akan terbuka pintu rizkiNya.

Namun jangan seperti suatu gerakan yang membela Allah dan RasulNya, tetapi ujungnya adalah sikap-sikap radikal dan jauh dari orintasi jiwa yang menghadap Allah. Tetapi orientasinya menang, bangga, dan kesombongan yang penuh arogan,. Justru ia semakin jauh dari Allah, walau pun berpakaian, seakan-akan seperti Ahlullah, ahli ibadah.

Manusia yang bisa berhijrah kepada Allah, adalah manusia yang pergi menuju CahayaNya. Bukan kembali ke alam kegelapan dunia. Manusia inilah yang kelak bisa memandang dunia dengan kecamata Ilahiyah, bukan dengan kacamata dunia yang gelap.

From: sufinews.com

Syeikh Abdul Qodir Jaelani

Syeikh Abdul Qodir Jaelani (bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jaelani) lahir di Jailan atau Kailan tahun 470 H/1077 M, sehingga diakhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau Al Kailani atau juga Al Jiliydan.(Biaografi beliau dimuat dalam Kitab Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali. Buku ini belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia). Beliau wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi’ul Akhir di daerah Babul Azajwafat di Baghdad pada 561 H/1166 M.

Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al-Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al-Ghazali.

[sunting] Masa muda

Beliau meninggalkan tanah kelahiran, dan merantau ke Baghdad pada saat beliau masih muda. Di Baghdad belajar kepada beberapa orang ulama’ seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein Al Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Muharrimi. Beliau belajar sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama’. Suatu ketika Abu Sa’ad Al Mukharrimi membangun sekolah kecil-kecilan di daerah yang bernama Babul Azaj. Pengelolaan sekolah ini diserahkan sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim disana sambil memberikan nasehat kepada orang-orang yang ada tersebut. Banyak sudah orang yang bertaubat setelah mendengar nasehat beliau. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau, sehingga sekolah itu tidak muat menampungnya.

[sunting] Murid-murid

Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama’ terkenal. Seperti Al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. Juga Syeikh Qudamah penyusun kitab fiqh terkenal Al Mughni.

Perkataan ulama tentang beliau : Syeikh Ibnu Qudamah rahimahullah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir, beliau menjawab, ” kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau sangat perhatian terhadap kami. Kadang beliau mengutus putra beliau yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam dalam shalat fardhu.”

Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani sampai beliau meninggal dunia. (Siyar A’lamin NubalaXX/442). Beliau adalah seorang ‘alim. Beraqidah Ahlu Sunnah, mengikuti jalan Salafush Shalih. Dikenal banyak memiliki karamah-karamah. Tetapi banyak (pula) orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, “thariqah” yang berbeda dengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya. Diantaranya dapat diketahui dari perkataan Imam Ibnu Rajab, ”

Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syeikh, baik ‘ulama dan para ahli zuhud. Beliau banyak memiliki keutamaan dan karamah. Tetapi ada seorang yang bernama Al Muqri’ Abul Hasan Asy Syathnufi Al Mishri (Nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Yusuf bin Jarir Al Lakh-mi Asy Syath-Nufi. Lahir di Kairo tahun 640 H, meninggal tahun 713 H. Dia dituduh berdusta dan tidak bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani) mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam tiga jilid kitab. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya ). Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan yang dia dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tentram untuk berpegang dengannya, sehingga aku tidak meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh ( dari agama dan akal ), kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak berbatas. (Seperti kisah Syeikh Abdul Qadir menghidupkan ayam yang telah mati, dan sebagainya.) semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah. Kemudian aku dapatkan bahwa Al Kamal Ja’far Al Adfwi (Nama lengkapnya ialah Ja’far bin Tsa’lab bin Ja’far bin Ali bin Muthahhar bin Naufal Al Adfawi. Seoarang ‘ulama bermadzhab Syafi’i. Dilahirkan pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 685 H. Wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi beliau dimuat oleh Al Hafidz di dalam kitab Ad Durarul Kaminah, biografi nomor 1452.) telah menyebutkan, bahwa Asy Syath-nufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini.”(Dinukil dari kitab At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa’dah 1415 H / 8 April 1995 M.). Imam Ibnu Rajab juga berkata, ” Syeikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yang terkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan perkara-perkara yang berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunnah. Beliau membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah.”

Syeikh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalam kitabnya, Al Ghunyah, ” Dia (Allah ) di arah atas, berada diatas ‘arsyNya, meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu.” Kemudian beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadist-hadist, lalu berkata ” Sepantasnya menetapkan sifat istiwa’ ( Allah berada diatas ‘arsyNya ) tanpa takwil ( menyimpangkan kepada makna lain ). Dan hal itu merupakan istiwa’ dzat Allah diatas arsy.” (At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 515). Ali bin Idris pernah bertanya kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, ” Wahai tuanku, apakah Allah memiliki wali (kekasih ) yang tidak berada di atas aqidah ( Imam ) Ahmad bin Hambal?” Maka beliau menjawab, ” Tidak pernah ada dan tidak akan ada.”( At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 516).

Perkataan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani tersebut juga dinukilkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Istiqamah I/86. Semua itu menunjukkan kelurusan aqidahnya dan penghormatan beliau terhadap manhaj Salaf.

Sam’ani berkata, ” Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Beliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau.” Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut,”Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”

Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeikh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan beliau mengetahui hal-hal yang ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, ”Intinya Syeikh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman ). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau.”( Siyar XX/451 ). Imam Adz Dzahabi juga berkata, ” Tidak ada seorangpun para kibar masyasyeikh yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak diantara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi“.

Syeikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil,hal.136, ” Aku telah mendapatkan aqidah beliau ( Syeikh Abdul Qadir Al Jailani ) didalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. (Lihat kitab Al-Ghunyah I/83-94) Maka aku mengetahui bahwa dia sebagai seorang Salafi. Beliau menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf. Beliau juga membantah kelompok-kelompok Syi’ah, Rafidhah,Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf.” (At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa’dah 1415 H / 8 April 1995 M.)

Inilah tentang beliau secara ringkas. Seorang ‘alim Salafi, Sunni, tetapi banyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas nama beliau. Sedangkan beliau berlepas diri dari semua kebohongan itu. Wallahu a’lam bishshawwab.

Kesimpulannya beliau adalah seorang ‘ulama besar. Apabila sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjung-nyanjungnya dan mencintainya, maka itu adalah suatu kewajaran. Bahkan suatu keharusan. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau di atas Rasulullah shollallahu’alaihi wasalam, maka hal ini merupakan kekeliruan yang fatal. Karena Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasalam adalah rasul yang paling mulia diantara para nabi dan rasul. Derajatnya tidak akan terkalahkan disisi Allah oleh manusia manapun. Adapun sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah ( perantara ) dalam do’a mereka, berkeyakinan bahwa do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaranya. Ini juga merupakan kesesatan. Menjadikan orang yang meninggal sebagai perantara, maka tidak ada syari’atnya dan ini diharamkan. Apalagi kalau ada orang yang berdo’a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab do’a merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak diberikan kepada selain Allah. Allah melarang mahluknya berdo’a kepada selain Allah. “Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya disamping (menyembah ) Allah. ( QS. Al-Jin : 18 )”

Jadi sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk memperlakukan para ‘ulama dengan sebaik mungkin, namun tetap dalam batas-batas yang telah ditetapkan syari’ah. Akhirnya mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita sehingga tidak tersesat dalam kehidupan yang penuh dengan fitnah ini.

Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Abdul Qadir Jaelani menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Abdul Qadir Jaelani, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.

Syeikh Abdul Qadir Jaelani juga dikenal sebagai pendiri sekaligus penyebar salah satu tarekat terbesar didunia bernama Tarekat Qodiriyah.

Awal Kemasyhuran Al-Jaba’I berkata bahwa Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani juga berkata kepadanya, “tidur dan bangunku sudah diatur. Pada suatu saat, dalam dadaku timbul keinginan yang kuat untuk berbicara. Begitu kuatnya sampai aku merasa tercekik jika tidak berbicara. Dan ketika berbicara, aku tidak dapat menghentikannya. Pada saat itu ada dua atau tiga orang yang mendengarkan perkataanku. Kemudian mereka mengabarkan apa yang aku ucapkan kepada orang-orang, dan merekapun berduyun-duyun mendatangiku di masjid Bab Al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, aku dipindahkan ke tengah kota dan dikelilingi dengan lampu. Orang-orang tetap datang di malam hari dan memakai lilin dan obor dan memenuhi tempat tersebut. Kemudian aku dibawa keluar kota dan ditempatkan di sebuah mushalla. Namun orang-orang tetap datang kepadaku, dengan mengendarai kuda, unta bahkan keledai dan menempati tempat disekelilingku. Saat itu hadir sekitar 70 orang para wali RadhiAllahu anhum.

Kemudian Syaikh Abdul Qadir melanjutkan, “Aku melihat Rasululloh SAW sebelum dzuhur, beliau berkata kepadaku, ’anakku, mengapa engkau tidak berbicara ?’. ’Ayahku, bagaimana aku yang non arab ini berbicara di depan orang-orang fasih dari Baghdad?’. Beliau berkata, ’buka mulutmu’, lalu beliau meniup 7 kali ke dalam mulutku kemudian berkata, ”bicaralah dan ajak mereka ke jalan Allah dengan hikmah dan peringatan yang baik”. Setelah itu aku shalat dzuhur dan duduk dan mendapati jumlah yang sangat luar biasa banyaknya sehingga membuatku gemetar. Kemudian aku melihat Ali r.a. datang dan berkata, ’buka mulutmu’. Beliau lalau meniup 6 kali kedalam mulutku dan ketika aku bertanya kepadanya mengapa beliau tidak meniup 7 kali seperti yang dilakukan Rasululloh SAW, beliau menjawab bahwa beliau melakukan itu karena rasa hormat beliau kepada RasuluLloh SAW. Kemudian akku berkata, ’Pikiran, sang penyelam, mencari mutiara ma’rifah dengan menyelami laut hati, mencampakkannya ke pantai dada , dilelang oleh lidah sang calo, kemudian dibeli dengan permata ketaatan dalam rumah yang diizinkan Allah untuk diangkat’”. Beliau kemudian menyitir :

Idan untuk wanita seperti Laila seorang pria dapat membunuh dirinya, dan menjadikan maut dan siksaan sebagai sesuatu yang manis

Dalam beberapa manuskrip saya mendapatkan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata, ”Sebuah suara berkata kepadaku saat aku berada di pengasingan diri, ‘kembali ke Baghdad dan ceramahilah orang-orang’. Akupun masuk Baghdad dan menemukan para penduduknya dalam kondisi yang tidak aku sukai dan karena itulah aku tidak jadi mengikuti mereka’. ‘sesungguhnya’ kata suara tersebut ,’mereka akan mendapatkan manfaat dari keberadaan dirimu’.

‘Apa hubungan mereka dengan keselamatan agamaku / keyakinanku’ tanyaku.

‘Kembali (ke Baghdad) dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu’ jawab suara itu.

Akupun menbuat 70 perjanjian dengan Allah. Diantaranya adalah tidak ada seorangpun yang menentangku dan tidak ada seorang muridku yang meninggal kecuali dalam keadaan bertaubat. Setelah itu, aku kembali ke Baghdad dan mulai berceramah. Suatu ketika saat aku berceramah , aku melihat sebuah cahaya terang benderang mendatangi aku. ‘Apa ini dan ada apa?’tanyaku. ‘Rasululloh SAW akan datang menemuimu untuk memberikan selamat’ jawab sebuah suara. Sinar tersebut makin membesar dan aku mulai masuk dalam kondisi spiritual yang membuatku setengah sadar. Lalu aku melihat RasuLulloh SAW di depan mimbar, mengambang di udara dan memanggilku, ’wahai Abdul Qadir’. Begitu gembiranya aku dengan kedatangan RasuluLloh SAW , aku melangkah naik ke udara menghampirinya. Beliau meniup ke dalam mulutku 7 kali. Kemudian Ali datang dan meniup ke dalam mulutku 3 kali. ’mengapa engkau tidak melakukan seperti yang dilakukan RasuluLloh SAW?’ tanyaku kepadanya. ‘sebagai rasa hormatku kepada Rasulullah SAW‘ jawab beliau.

RasuluLlah SAW kemudian memakaikan jubah kehormatan kepadaku. ‘apa ini ?’ tanyaku. ‘ini’ jawab Rasulullah, ’adalah jubah kewalianmu dan dikhususkan kepada orang-orang yang mendapat derajad Qutb dalam jenjang kewalian’. Setelah itu , akupun tercerahkan dan mulai berceramah.

Saat Khidir as. Datang hendak mengujiku dengan ujian yang diberikan kepada para wali sebelumku, Allah membukakan rahasianya dan apa yang akan di katakannya kepadaku. Aku berkata kepadanya, ”Wahai Khidir, apabila engkau berkata kepadaku ’Engkau tidak akan sabar kepadaku’, maka aku akan berkata kepadamu ‘Engkau tidak akan sabar kepadaku’. Wahai Khidir, Engkau termasuk golongan Israel sedangkan aku termasuk golongan Muhammad, maka inilah aku dan engkau. Aku dan engkau seperti sebuah bola dan lapangan, yang ini Muhammad dan yang ini Ar-Rahman, ini kuda berpelana, busur terentang dan pedang terhunus.” Al-Khattab pelayan Syaikh Abdul QAdir meriwayatkan bahwa suatu hari ketika beliau sedang berceramah tiba-tiba beliau berjalan naik ke udara dan berkata, “Hai orang Israel, dengarkan apa yang dikatakan oleh kaum Muhammad” lalu kembali ke tempatnya. Saat ditanya mengenai hal tersebut beliau menjawab, ”Tadi Abu Abbas Al-Khidir as lewat, maka akupun berbicara kepadanya seperti yang kalian dengar tadi dan ia berhenti”.

Guru dan teladan kita Syaikh Abdul Qadir Al-Jilli berkata,” seorang Syaikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya yaitu :

Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang Sattar (menutup aib) dan Ghaffar (Maha pemaaf).

Dua karakter dari RasuluLlah SAW yaitu penyayang dan lembut

Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya.

Dua karakter dari Umar yaitu amar ma’ruf nahi munkar

Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.

Dua karakter dari Ali yaitu aalim (cerdas/intelek) dan pemberani.

Masih berkenaan dengan pembicaraan di atas dalam bait syair yang dinisbatkan kepada beliau dikatakan :

Bila lima perkara tidak terdapat dalam diri seorang syaikh maka ia adalah Dajjal yang mengajak kepada kesesatan.

Dia harus sangat mengetahui hukum-hukum syariat dzahir, mencari ilmu hakikah dari sumbernya, hormat dan ramah kepada tamu, lemah lembut kepada si miskin, mengawasi para muridnya sedang ia selalu merasa diawasi oleh Allah

Syaikh Abdul Qadir juga menyatakan bahwa Syaikh Al-Junaid mengajarkan standar Al-Qur’an dan Sunnah kepada kita untuk menilai seorang Syaikh. Apabila ia tidak hapal Al-Qur’an, tidak menulis dan menghapal Hadits, maka dia tidak pantas untuk diikuti.

Menurut saya (penulis buku) yang harus dimiliki seorang Syaikh ketika mendidik seseorang adalah dia menerima si murid untuk Allah, bukan untuk dirinya atau alasan lainnya. selalu menasihati muridnya, mengawasi muridnya dengan pandangan kasih. Lemah lembut kepada muridnya saat sang murid tidak mampu menyelesaikan Riyadhah. Dia juga harus mendidik si murid bagaikan anak sendiri dan orang tua penuh dengan kasih dan kelemah lembutan dalam mendidik anakknya. Oleh karena itu dia selalu memberikan yang paling mudah kepada si murid dan tidak membebaninya dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya. Dan setelah sang muuriid bersumpah untuk bertobat dan selalu taat kepada Allah baru sang syaikh memberikan yang lebih berat kepadanya. Sesungguhnya bai’at bersumber dari hadits RasuluLlah SAW ketika beliau mengambil bai’at para sahabatnya.

Kemudian dia harus mentalqin si murid dengan zikir lengkap dengan silsilahnya. Sesungguhnya Ali ra. Bertanya kepada RasuluLloh SAW, ‘Yaa Rasulullah, jalan manakah yang terdekat untuk sampai kepada Allah, paling mudah bagi hambanya dan paling afdhal di sisi Nya. RasuluLlah berkata,’Ali, hendaknya jangan putus berzikir (mengingat) kepada Allah dalam khalwat (kontemplasinya)’. Kemudian Ali ra. Kembali berkata , ‘Hanya demikiankah fadhilah zikir, sedangkan semua orang berzikir’. RasuluLlah berkata,’Tidak hanya itu wahai Ali, kiamat tidak akan terjadi di muka bumi ini selama masih ada orang yang mengucapkan “Allah” “Allah”. ‘Bagai mana aku berzikir?’. Tanya Ali. RasuluLlah bersabda, ’dengarkan apa yang aku ucapkan. Aku akan mengucapkannya sebanyak tiga kali dan aku akan mendengarkan engkau mengulanginya sebanyak tiga kali pula’. Lalu RasuluLlah berkata, “Laa ilaaha illallah” sebanyak tiga kali dengan mata terpejam dan suara kjeras. Ucapan tersebut di ulang oleh Ali dengan cara yang sama RasuluLlah lakukan. Inilah asal talqin kalimat Laa ilaaha Illallah. Semoga Allah memberikan taufiknya kepada kita dengan kalimat tersebut”.

Syaikh Abdul Qadir berkata, ”Kalimat tauhid akan sulit hadir pasda seorang individu yang belum di talqin dengan zikir bersilsilah kepada RasulluLlah oleh Mursyidnya saat menghadapi sakaratil maut”.

Karena itulah Syaikh Abdul Qadir selalu mengulang-ulang syair yang berbunyi : Wahai yang enak diulang dan diucapkan (kalimat tauhid) jangan engkau lupakan aku saat perpisahan (maut).

Malu

Rasulullah SAW bersabda:

“Malulah kalian di hadapan Allah dengan malu yang sesungguhnya.” Para sahabat berkata, “Kami, sudah merasa malu wahai Nabi Allah, dan segala puji bagiNya.” Lalu beliau bersabda, “Itu bukan malu yang sesungguhnya. Orang yang hendak malu dengan sesungguhnya di hadapan Allah swt, hendaklah menjaga pikiran dan bisikan hatinya, menjaga perut dan apa yang dimakannya dan hendaklah ia mengingat mati serta fitnah kubur. Orang yang menghendaki akhirat hendaknya meninggalkan perihiasan duniawi. Orang yang melakukan semua ini berarti memiliki malu yang sesungguhnya di hadapan Allah.” (HR. Tirmidzi dan Hakim).

Ada lima tanda celaka manusia: Hati yang keras; mata yang bengis; tidak ada rasa malu; hasrat terhadap dunia; dan lamunan yang tak terhingga. (Al-Fudhail bin ‘Iyadh).

HambaKu telah memperlakukan Aku dengan tidak adil. Ia berdoa kepadaKu dan Aku merasa malu jika tidak mengabulkan doanya. Tapi ia terus bermaksiat kepadaKu tanpa merasa malu kepadaKu. (Firman Allah dalam salah satu Kitab Allah)

Malu adalah mengerutnya hati manusia untuk mengagungkan kebesaran Allah.
(Kata salah seorang sufi)
Ketika aku sholat dua rekaat, tiba-tiba aku mebatalkannya, karena aku merasa malu dihadapan Allah seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.
(Abu Bakr al-Warraq)

Mahmoud Ahmadinejad

Lahir di desa pertanian Aradan, dekat Garmsar, sekitar 100 km dari Teheran, sebagai putra seorang pandai besi, keluarganya pindah ke Teheran saat dia berusia satu tahun. Dia lulus dari Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) dengan gelar doktor dalam bidang teknik dan perencanaan lalu lintas dan transportasi.

Pada tahun 1980, dia adalah ketua perwakilan IUST untuk perkumpulan mahasiswa, dan terlibat dalam pendirian Kantor untuk Pereratan Persatuan (daftar-e tahkim-e vahdat), organisasi mahasiswa yang berada di balik perebutan Kedubes Amerika Serikat yang mengakibatkan terjadinya krisis sandera Iran.

Pada masa Perang Iran-Irak, Ahmedinejad bergabung dengan Korps Pengawal Revolusi Islam pada tahun 1986. Dia terlibat dalam misi-misi di Kirkuk, Irak. Dia kemudian menjadi insinyur kepala pasukan keenam Korps dan kepala staf Korps di sebelah barat Iran. Setelah perang, dia bertugas sebagai wakil gubernur dan gubernur Maku dan Khoy, Penasehat Menteri Kebudayaan dan Ajaran Islam, dan gubernur provinsi Ardabil dari 1993 hingga Oktober 1997.

Ahmadinejad lalu terpilih sebagai walikota Teheran pada Mei 2003. Dalam masa tugasnya, dia mengembalikan banyak perubahan yang dilakukan walikota-walikota sebelumnya yang lebih moderat dan reformis, dan mementingkan nilai-nilai keagamaan dalam kegiatan-kegiatan di pusat-pusat kebudayaan. Selain itu, dia juga menjadi semacam manajer dalam harian Hamshahri dan memecat sang editor, Mohammad Atrianfar, pada 13 Juni 2005, beberapa hari sebelum pemilu presiden, karena tidak mendukungnya dalam pemilu tersebut.

Ahmadinejad diketahui pernah bertengkar dengan Presiden Mohammad Khatami, yang lalu melarangnya menghadiri pertemuan Dewan Menteri, suatu hak yang biasa diberikan kepada para walikota Teheran. Dia telah mengkritik Khatami di depan umum, menuduhnya tidak mengetahui masalah-masalah sehari-hari warga Iran.

Setelah dua tahun sebagai walikota Teheran, Ahmadinejad lalu terpilih sebagai presiden baru Iran. Tak lama setelah terpilih, pada 29 Juni 2005, sempat muncul tuduhan bahwa ia terlibat dalam krisis sandera Iran pada tahun 1979. Iran Focus mengklaim bahwa sebuah foto yang dikeluarkannya menunjukkan Ahmadinejad sedang berjalan menuntun para sandera dalam peristiwa tersebut, namun tuduhan ini tidak pernah dapat dibuktikan.

From: wikipedia

EPILOG CINTA


Aku bersendirian dikamar yang indah ini

dengan hamparan sungai-sungai permata,

berdindingkan bukit-bukau menghijau,

bertemankan tasbih dan kitab suci.

Lalu aku ukir pada taman hati ini

zikir-zikir dan munajat

untuk renungan mereka yang halus hatinya

dan dekat hatinya pada Allah.


Sejauh mana pun kita terbang,

namun sebenarnya hanya bersandar pada Dia

kita dapat melihat kalbu-kalbu bersayap riang

dikerumuni pohon-pohon zaitun yang manis rasanya.

Di situ wujud diri adalah seikhlas hati

dalam menerangi insan-insan lain

dalam melihat kewujudan Maha Suci Allah.


Dari situ kita bongkar rahsia-rahsia

dalam sujudyang penuh kusyuk

lalu disampaikan hajat dan mengadu keluhan hati

yang tidak terjangkau oleh akal manusia ini.

Tatkala itu, kalbu-kalbu mula terasa rindu

pada dia yang kekal abadi.

Suara-suara hati kita mula berasa

getarakan sulaman cinta bersama-Nya.

Zikir-zikir kasih berbaris-baris tunduk

dan sujud pada Allah,

lalu perasaan hati kita tenang

setenang tujuh lautan yang berdiri diatas Zat-Nya.


Dimalam yang barakah yang penuh barakah itu,

titipkan hati ini pada kalam-kalam Allah

dan pujian itu adalah pada-Nya.

Lalu kita puji Muhamad

kerana dia lah kekasih Allah

dan Muhamad itu menyimpan rahsia-rahsia Allah.

Tangisan yang menyapa pipi

dikala berzikir memberi pengakuan

kecintaan ini pada Allah.

Lalu kita rasa sungguh terharu,

kenapa perlu bongkak

sedangkan pada Dia wujudnya diri kita

Lalu sedalam-dalam taubat itu kita luhurkan

pada nadi-nadi yang bersuara

didinding dosa yang mohon keampunan.

Pada malam itu, kita bersedia

dan terus bersedia mengabdikan diri pada Allah.


Dipersinggahan bulan yang mulia

yang datang sekejap cuma,

terasa amat cepat.

Terkejar-kejar hati ini

berdansa memegang raut wajah-Nya

tatkala pintu-pintu langit itu terbuka.

Betapa rindunya hati ini pada Dia.

Dia yang meliputi segalanya.

Aku cinta pada-Mu

Izinkan aku mendakap keagungan-Mu

Benarkan lah aku menyampaikan berita gembira

pada mereka yang lupa pada-Mu.

Entah esok atau lusa aku fana dalam dakapan-Mu.

Allahuakhabar…. Allahuakhbar… Allahuakhabar……

Jangan engkau tutup pandangan itu.

Lihat lah aku. Lihat lah aku ada disini.

Bukakanlah hijab itu.

Dinding Sirr yang memberi aku

pandangan makrifat-Mu…..


Dalam tangisan yang tidak bersuara

kita berjanji pada-Nya.

Tangisan yang jatuh

dari helai-helai keinsafan berguguran

di atas sungai kudus.

Lalu diangkat ke langit disemai

dengan zikir-zikir kudus

dan disiram bersama daun-daun pelangi.

Lalu hati kita mula rasa tunduk

dan tunduk pada-Nya.

Sejahat mana pun kita, keampunan itu senantiasa ada.

Maka kita tadah tangan berdoa

seraya merebah diri mengaku Dia lah ALLAH.

Maha Suci Allah. Lihat lah Dia,

kerana Dia dekat dan sedekat urat leher kita.

Dalam kita menuruni lembah-lembah duka,

kita bingkas bangun dan berdoa

kerana Dia senantiasa mendengar

keluhan hati orang-orang yang mukmin.

Pohonlah wahai sahabat-sahabatku…..

dan katakanlah kamu kenal Dia!!

azhar a.k.a curasimanjakini

(esasterawan.com)

Posted in Puisi. Tags: , , , . 1 Comment »