Rasulullah SAW bersabda:
“Malulah kalian di hadapan Allah dengan malu yang sesungguhnya.” Para sahabat berkata, “Kami, sudah merasa malu wahai Nabi Allah, dan segala puji bagiNya.” Lalu beliau bersabda, “Itu bukan malu yang sesungguhnya. Orang yang hendak malu dengan sesungguhnya di hadapan Allah swt, hendaklah menjaga pikiran dan bisikan hatinya, menjaga perut dan apa yang dimakannya dan hendaklah ia mengingat mati serta fitnah kubur. Orang yang menghendaki akhirat hendaknya meninggalkan perihiasan duniawi. Orang yang melakukan semua ini berarti memiliki malu yang sesungguhnya di hadapan Allah.” (HR. Tirmidzi dan Hakim).
Ada lima tanda celaka manusia: Hati yang keras; mata yang bengis; tidak ada rasa malu; hasrat terhadap dunia; dan lamunan yang tak terhingga. (Al-Fudhail bin ‘Iyadh).
HambaKu telah memperlakukan Aku dengan tidak adil. Ia berdoa kepadaKu dan Aku merasa malu jika tidak mengabulkan doanya. Tapi ia terus bermaksiat kepadaKu tanpa merasa malu kepadaKu. (Firman Allah dalam salah satu Kitab Allah)
Malu adalah mengerutnya hati manusia untuk mengagungkan kebesaran Allah.
(Kata salah seorang sufi)
Ketika aku sholat dua rekaat, tiba-tiba aku mebatalkannya, karena aku merasa malu dihadapan Allah seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.
(Abu Bakr al-Warraq)