Renungan I

From milis iqra

nah ..skg coba kita hitung rata2 kira tidur selama sehari.?
rata2 tidur 8 jam perhari. itu berarti 8jam/24jam=1/3hari
rata2 manusia hidup selama 60tahun, berarti 1/3×60tahun= 20 tahun. tanpa kita sadari bahwa kita semua tidur selama 20 tahun.!!
bekerja = 8jam itu berarti kita bekerja selama 20 tahun, dan pasti jg ada yg bekerja 12jam perhari itu berarti orang itu bekerja selama 30tahun dalam hidupnya….
nah 8 jam lagi = maen,nonton tv, nongkrong/jjs ama teman/keluarga =>berarti selama 20 tahun kita pergunakan untuk bermain..

nah caba kita hitung berapa berapa lama kita beribadah dlm 1 hari.?? klo cuma 30 menit itu berarti 0.5/24=1/48X60tahun= itu berarti kita luangkan waktu kita buat TUHAN
yang telah memberikan kita kehidupan,
yang telah memberi rizki pada kita,
yang telah memberi kita pendamping hidup(org yg kita cintai,
yg telah menjaga kita,
yg akan kita temui d hari akhir nanti
hanya 1 tahun 3bulan.

coba bandingkan dengan waktu kita luangkan buat orang lain& waktu untuk bekerja selama 40 tahun!!

klo kita renungkan, ternyata kita tidak adil,sangat tidak adil.. kita sering lupa sama TUHAN, tp satu yg pasti TUHAN tidak pernah melupakan kita. pantaskah kita berlaku seperti ini. ??
bukan maksud menggurui tp saya coba untuk saling mengingatkan khusus nya untuk pribadi sendiri…

Renungan II

from milis-iqra
=============================================================================

Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang istri.

Dia mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak.
Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini.

Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini, dan selalu berusaha untuk
memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya.
Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.

Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian.
Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini.
Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit.

Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi
kehidupan keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sangsuami.
Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya.
Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.

Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal.
Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati. “Saat ini, aku punya 4 orang
istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri.”

Lalu, ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya. “Kaulah yang paling
kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku? Ia terdiam. “Tentu saja tidak, “jawab istri keempat, dan pergi begitu
saja tanpa berkata-kata lagi.

Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada
pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.

Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga.
“Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir.
Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku?
Istrinya menjawab, Hidup begitu indah disini. Aku akan
menikah lagi jika kau mati. Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.

Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. “Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau
membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku? Sang istri menjawab pelan. “Maafkan aku,” ujarnya “Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu.
Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara. “Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan
meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku.”

Renungan :

Teman, sesungguhnya kita punya 4 orang istri dalam hidup ini.
Istri yang keempat, adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.

Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan.
Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain.
Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.

Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman.
Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya.
Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.

Dan, teman, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak.

Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal belakangan.

Istiqomah, Istikharah dan Istighfar

Oleh: Dewan Asatidz

Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada siang
ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti, kadang
naik kadang turun. Ada suka ada duka. Ada senyum ada tangis.
Kadangkala dipuji tapi pada suatu saat kita dicaci. Jangan harapkan
ada keabadian perjalanan hidup. Oleh sebab itu agar tidak terombang
ambing dan tetap tegar dalam menghadapi segala kemungkinan tantangan
hidup kita harus memiliki pegangan dan amalam dalam hidup. Salah satu
pegangan dan amalan penting yang diberikan agama kita untuk menghadapi
kehidupan ini adalah Istiqomah, Istikharah dan Istighfar.

1. Istiqomah, yaitu kokoh dalam dalam aqidah dan konsisten
dalam beribadah. Begitu pentingnya Istiqomah ini sampai Nabi Muhammad
Shallahu ‘alaihi wa

sam berpesan kepada seseorang seperti dalam hadits berikut:

عن أبي سفيان بن عبد الله رضي الله علنه قال: قلت يا رسول الله، قل لي فى
الإسلام قولا لا أسأله عنه أحدا غيرك، قال: قل آمنت بالله ثم استقم (رواه
مسلم)

Dari Abu Sufyan bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu berkata: Aku telah
berkata, “wahai rasulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam
sehingga aku tidak perlu berkata pada orang lain selain engkau. Nabi
menjawab,”katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian
beristiqomahlah”.

Orang yang istiqomah selalu kokoh dalam aqidah dan tidak goyang
keimanan bersama dalam tantangan hidup. Sekalipun dihadapkan pada
tantangan hidup, ibadah tidak ikut redup, kantong kering atau tebal,
tetap memperhatikan haram halam, dicaci dipuji, sujud pantang
berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas, ia tidak tergoda melakukan
kemaksiatan.

Orang seperti itulah yang dipuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-
qura’an surat fusilat ayat 30

. إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمْ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا
تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengataka:”tuhan kami ialah Allah’
kemudian mereka meneguhakan pendirian mereka, maka malaikat akan turun
kepada mereka (dengan mengetakan):”janganlah kamu merasa takut, dan
janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan syurga yang
telah dijanjikan Allah kepadamu”.

2. Istikharah, selalu mohon petunjuk kepada Allah dalam setiap langkah
dan penuh pertimbangan dalam setiap keputusan.

Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara dan melakukan suatu
perbuatan. Akan tetapi menurut Islam, tidak ada kebebasan yang tanpa
batas, dan batas-batas tersebut adalah aturan-aturan agama. Maka
seorang muslim yang benar, selalu berfikir berkali-kali sebelum
melakukan tindakan atau mengucapakan sebuah ucapan serta ia selalu
mohon petunjuk kepada Allah.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت.(رواه البخاري ومسلم
عن أبي هريرة

Barang siapa yang beriman kepad Allah dan hari akhir, maka berkatalah
yang baik atau diamlah. (HR Al-bukhari dan muslim dari Abu Hurairah)

Orang bijak berkata “Think today and speak tomorrow” (berfikirlah hari
ini dan berbicaralah besok).

Kalau ucapan itu tidak baik apalagi sampai menyakitkan orang lain maka
tahanlah, jangan diucapakn, sekalipun menahan ucapan tersebut terasa
sakit. Tapi apabila ucapan itu benar dan baik maka katakanlah jangan
ditahan sebab lidah kita menjadi lemas untuk bisa meneriakkan
kebenaran dan keadilan serta menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Mengenai kebebasan ini, malaikat jibril pernah datang kepada Nabi
muhammad Shallahu ‘alai wa salam untuk memberikan rambu kehidupan,
beliau bersabda:

أتاني جبريل فقال: يا محمد عش ما شئت فإنك ميت، وأحبب ما شئت فإنك مفارق،
واعمل ما شئت فإنك مجزي به. (رواه البيهقي عن جابر

Jibril telah datang kepadaku dan berkata: Hai Muhammad hiduplah
sesukamu, tapi sesungguhnya engkau suatu saat pasti akan mati,
cintailah apa yang engkau sukai tapi engkau suatua saat pasti
berpdisah juga dan lakukanlah yang engkau inginkan sesungguhny semua
itu ada balasannya.(HR. Baihaqi dan Jabir)

Sabda Nabi Shallahu alihi wasalam ini semakin penting untuk diresapi
ketika akhir akhir ini dengan dalih kebebasan, banyak orang berbicara
tanpa logika dan data yang benar dan bertindak sekehaendaknya tanpa
mengindahkan etika agama. Para pakar barang kali untuk saat saat ini,
lebih bijaksana untuk banyak mendengar daripada berbicara yang kadang
kadang justru membingungkan masyarakat.

Kita memasyarakatkan istikharah dalam segala langkah kita, agar kita
benar benar bertindak secara benar dan tidak menimbulkan kekecewaan di
kemudian hari.

Nabi Muhammad Shallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

ما خاب من استخار ولا ندم من استشار ولا عال من اقتصد.

Tidak rugi orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang
bermusyawarah dan tidak akan miskin orang yang hidupnya hemat. (HR.
Thabrani dari Anas)

2. Istighfar, yaitu selalu introspeksi diri dan mohon ampunan kepada Allah.

Setiap orang pernah melakukan kesalahan baik sebagai individu maupun
kesalahan sebagai sebuah bangsa. Setiap kesalahan dan dosa itu
sebenarnya penyakit yang merusak kehidupan kita. Oleh karena itu ia
harus diobati.

Tidak sedikit persoalan besar yang kita hadapi akhir akhir ini yang
diakibatkan kesalahan kita sendiri. Saatnya kita instrospeksi masa
lalu, memohon ampun kepada Allah, melakukan koreksi untuk menyongsong
masa depan yang lebih cerah dengan penuh keridloaan Allah.

Dalam persoalan ekonomi, jika rizki Allah tidak sampai kepada kita
disebabkan karena kesalahan kita, maka yang diobati adalah sifat malas
itu. Kita tidak boleh menjadi umat pemalas. Malas adalah bagian dari
musuh kita. Jika kesulitan ekonomi tersebut, karena kita kurang bisa
melakukan terobosan-terobosan yang produktif maka kreatifitas dan etos
kerja umat yang harus kita tumbuhkan.

Allah berfirman yang mengisahkan seruan Nabi hud Alaihissalam, kepada
kaumnya:

وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلْ
السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى
قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

“dan (Hud) berkata, hai kaumku, mohonlah ampun kepada tuhanmu lalu
bertaubatlah kepadakNya, niscaya di menurunkan hujan yang sangat deras
atasmu dan dia akan menambahkan kekuatan dan janganlah kamu berpaling
dengan berbuat dosa” (QS. 52)

Sekali lagi, tiada kehidupan yang sepi dari tantangan dan godaan. Agar
kita tetap tegar dan selamat dalam berbagai gelombang kehidupan, tidak
bisa tidak kita harus memiliki dan melakukan tiga amalan di atas
yaitu Istiqomah, Istikharah, Isrighfar.

Mudah mudahan Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menatap masa
depan dengan keimanan dan rahmayNya yang melimpah. Amin
Disusun oleh Ustadz Abbas Sofwan, Lc