Inilah Jadwal dan Nama Anggota DPR yang ke Argentina

http://eramuslim.com/fckfiles/image/dpr112.jpgFROM MILIS-IQRO

Sudah bukan rahasia umum lagi jika agenda studi banding ke luar negeri yang dilakukan oleh anggota DPR sesungguhnya cuma merupakan akal-akalan para anggota terhormat untuk bisa melancong gratis ke luar negeri (pakai uang rakyat, yang sekarang banyak yang bunuh diri gara-gara himpitan kemiskinan dan kemelaratan hidup yang kian hari kian sulit ditanggung).

http://eramuslim.com/fckfiles/image/miskin.gifDi saat rakyat banyak antri BBM, menangis dengan airmata darah, bahkan bunuh diri atau membunuh anak-anaknya yang masih balita karena tidak tahan dengan kemiskinan, anggota DPR tanpa sedikit pun memiliki empati terhadap nasib rakyat ini lagi-lagi melancong ke luar negeri. Kali ini ke Buenos Aires, Argentina, untuk (katanya) studi banding soal pemilihan umum.

Situs Kompas (16/5) berjudul “Anggota DPR Bawa Keluarga Plesir ke Argentina” menulis, “Anggota DPR melakukan kunjungan kerja dengan uang saku 500 dollar AS atau Rp 4, 6 juta per hari per orang. Ada 12 anggota DPR yang mendapat uang saku sebesar 500 dollar AS per hari per orang atau setara dengan Rp 4, 6 juta. Total menghabiskan uang negara 6.000 dollar per hari atau 48.000 dollar atau senilai Rp 441 juta dalam delapan hari. Tidak termasuk biaya untuk 10 staf.”

http://eramuslim.com/fckfiles/image/rakyat-kecil.jpgJumlah tersebut hanya untuk uang saku. Belum termasuk akomodasi hotel kelas luxury, transport, tunjangan ini itu, dan sebagainya. Dan ingat, semua ini berasal dari uang rakyat.

“Anggota DPR yang berangkat studi banding ke Argentina pada masa persidangan IV Tahun Sidang 2007-2008 mewakili semua fraksi di DPR, kecuali Partai Golkar dan Partai Demokrat. Jumlah rombongan yang berangkat 27 orang, dengan rincian 12 anggota DRP, dua isteri anggota DPR, satu suami anggota DPR, 12 staf, dan seorang isteri staf, ” demikian Kompas.

Dari jadwal kegiatan mereka di Argentina ini yang selama lebih kurang delapan hari, waktu yang dipergunakan untuk sungguh-sungguh bekerja (rapat) cuma 10 jam, sedangkan untuk piknik adalah 55 jam! (lihat jadwal terlampir). Ini merupakan fakta yang tidak bisa dibantah jika anggota DPR ini memang plesiran dengan mempergunakan uang rakyat!

Siapa saja dan apa saja yang mereka lakukan di Argentina? Silakan lihat sendiri. Berikut ini jadwal kegiatan anggota DPR selama di Argentina dan daftar nama-nama yang berangkat (dari Kompas, 16/5):

Senin (12/5)

Pukul 20.00 WIB berkumpul di Bandara Soekarno Hatta.

Pukul 22.10 tinggal landas menuju Bandara Changi, Singapura.

Selasa (13/5)

Pukul 00.45 tiba di Singapura (transit)

Pukul 02.00 tinggal landas menuju Dubai Uni Emirat Arab.

Tiba pukul 10.00 setelah transit, ganti pesawat terbang lagi ke ke Sao Paolo, Brasil.

Pukul 17.55 Tiba di Sao Paolo

Pukul 21.30 tinggal landas menuju Buenos Aires, Argentina

Rabu (14/5)

Pukul 00.30 tiba Buenos Aires, check-in di Park Chateau Kempinski

Pukul 09.00-11.00 rapat dengan parlemen

Pukul 13.00-17.00 rapat dengan Camara Nacional Electoral (KPU)

Kamis (15/5)

Pukul 09.00-11.00 Rapat dengan Lembaga Penyelesaian

Konflik Pemilu (Electoral Management Body)

Pukul 13.00-17.00 Tamasya ke Delta Tigre dan Colon Theatre


Jumat (16/5)

Pukul 07.00 check-out dari hotel

Pukul 08.30-11.00 tamasnya ke 9th Juli Avenue, Obalisk, Metropolitan Cathedral, Cabildo dan menuju bandara

Pukul 18.00 tiba di Sao Paolo, check-in di Novotel Jeregua

Pukul 19.00-21.00 pertemuan dengan KBRI

Sabtu (17/5) hingga Minggu (18/5): Dua hari penuh, tamasya dalam kota

Minggu 19.00 check-out dan menuju bandara

Senin (19/5)

Pukul 01.25 tinggal landas menuju Dubai

23.05 tiba di Dubai, rombongan berpisah dan sebagian umroh

Selasa (20/5)

Pukul 16.25 tiba Bandara Soekarno Hatta


Sedangkan daftar nama-nama anggota dPR yang plesir ke Argentina adalah:

1.Yasonna Hamonangan Laoly (PDIP)

2.Andi Yuliani Paris (PAN)

3 Tumbu Saraswati (PDIP)

4.Jacobus Mayongpadang (PDIP)

5.Emmy Rerung Rante (isteri Jacobus Mayongpadang)

6 Hasril Azwar (PPP)

7 Nani Muliani (isteri Hasril Azwar)

8 Patrialis Akbar (PAN)

9 Putra Jaya (PAN)

10 Saifullah Mas’hum (PKB)

11 Badriyah Fayumi (PKB)

12 Abu Bakar (suami Badriyah)

14 Jazuli Juwaini (PKS)

15 Saut Marasal Hasibuan (PDS)

16 Rahmat Budiaji (staf)

17 Andie Widianto (staf)

18 Novianto Murti Hartono (staf)

19 Sudarsono (staf)

20 Evi Adiningrum (isteri Sudarsono)

21 Jajang Abdullah (staf)

22 Karim Mustari (staf)

23 Robert Simbolon (staf)

24 Suwarno Putra Raharjo (staf)

25 Gunawan Suswantoro (staf)

26 Agung Mulyana Saleh (staf)

27 Desmalili Mariati (staf)

Believe it or not?

Inilah kelakuan para wakil rakyat kita yang kita pilih dalam Pemilu 2004 lalu.(rizki)

NB. RALAT: Ketua F-PKS Al-Muzammil Yusuf tidak ikut serta dalam rombongan Pansus RUU Pilpres seperti yang telah diberitakan oleh media-media nasional. Yang bersangkutan telah memberi tahukan kepada kami tentang ralat tersebut..(rz)

Renungan I

From milis iqra

nah ..skg coba kita hitung rata2 kira tidur selama sehari.?
rata2 tidur 8 jam perhari. itu berarti 8jam/24jam=1/3hari
rata2 manusia hidup selama 60tahun, berarti 1/3×60tahun= 20 tahun. tanpa kita sadari bahwa kita semua tidur selama 20 tahun.!!
bekerja = 8jam itu berarti kita bekerja selama 20 tahun, dan pasti jg ada yg bekerja 12jam perhari itu berarti orang itu bekerja selama 30tahun dalam hidupnya….
nah 8 jam lagi = maen,nonton tv, nongkrong/jjs ama teman/keluarga =>berarti selama 20 tahun kita pergunakan untuk bermain..

nah caba kita hitung berapa berapa lama kita beribadah dlm 1 hari.?? klo cuma 30 menit itu berarti 0.5/24=1/48X60tahun= itu berarti kita luangkan waktu kita buat TUHAN
yang telah memberikan kita kehidupan,
yang telah memberi rizki pada kita,
yang telah memberi kita pendamping hidup(org yg kita cintai,
yg telah menjaga kita,
yg akan kita temui d hari akhir nanti
hanya 1 tahun 3bulan.

coba bandingkan dengan waktu kita luangkan buat orang lain& waktu untuk bekerja selama 40 tahun!!

klo kita renungkan, ternyata kita tidak adil,sangat tidak adil.. kita sering lupa sama TUHAN, tp satu yg pasti TUHAN tidak pernah melupakan kita. pantaskah kita berlaku seperti ini. ??
bukan maksud menggurui tp saya coba untuk saling mengingatkan khusus nya untuk pribadi sendiri…

Renungan II

from milis-iqra
=============================================================================

Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang istri.

Dia mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak.
Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini.

Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini, dan selalu berusaha untuk
memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya.
Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.

Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian.
Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini.
Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit.

Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi
kehidupan keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sangsuami.
Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya.
Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.

Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal.
Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati. “Saat ini, aku punya 4 orang
istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri.”

Lalu, ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya. “Kaulah yang paling
kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku? Ia terdiam. “Tentu saja tidak, “jawab istri keempat, dan pergi begitu
saja tanpa berkata-kata lagi.

Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada
pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.

Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga.
“Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir.
Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku?
Istrinya menjawab, Hidup begitu indah disini. Aku akan
menikah lagi jika kau mati. Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.

Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. “Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau
membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku? Sang istri menjawab pelan. “Maafkan aku,” ujarnya “Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu.
Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara. “Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan
meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku.”

Renungan :

Teman, sesungguhnya kita punya 4 orang istri dalam hidup ini.
Istri yang keempat, adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.

Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan.
Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain.
Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.

Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman.
Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya.
Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.

Dan, teman, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak.

Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal belakangan.

Istiqomah, Istikharah dan Istighfar

Oleh: Dewan Asatidz

Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada siang
ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti, kadang
naik kadang turun. Ada suka ada duka. Ada senyum ada tangis.
Kadangkala dipuji tapi pada suatu saat kita dicaci. Jangan harapkan
ada keabadian perjalanan hidup. Oleh sebab itu agar tidak terombang
ambing dan tetap tegar dalam menghadapi segala kemungkinan tantangan
hidup kita harus memiliki pegangan dan amalam dalam hidup. Salah satu
pegangan dan amalan penting yang diberikan agama kita untuk menghadapi
kehidupan ini adalah Istiqomah, Istikharah dan Istighfar.

1. Istiqomah, yaitu kokoh dalam dalam aqidah dan konsisten
dalam beribadah. Begitu pentingnya Istiqomah ini sampai Nabi Muhammad
Shallahu ‘alaihi wa

sam berpesan kepada seseorang seperti dalam hadits berikut:

عن أبي سفيان بن عبد الله رضي الله علنه قال: قلت يا رسول الله، قل لي فى
الإسلام قولا لا أسأله عنه أحدا غيرك، قال: قل آمنت بالله ثم استقم (رواه
مسلم)

Dari Abu Sufyan bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu berkata: Aku telah
berkata, “wahai rasulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam
sehingga aku tidak perlu berkata pada orang lain selain engkau. Nabi
menjawab,”katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian
beristiqomahlah”.

Orang yang istiqomah selalu kokoh dalam aqidah dan tidak goyang
keimanan bersama dalam tantangan hidup. Sekalipun dihadapkan pada
tantangan hidup, ibadah tidak ikut redup, kantong kering atau tebal,
tetap memperhatikan haram halam, dicaci dipuji, sujud pantang
berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas, ia tidak tergoda melakukan
kemaksiatan.

Orang seperti itulah yang dipuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-
qura’an surat fusilat ayat 30

. إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمْ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا
تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengataka:”tuhan kami ialah Allah’
kemudian mereka meneguhakan pendirian mereka, maka malaikat akan turun
kepada mereka (dengan mengetakan):”janganlah kamu merasa takut, dan
janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan syurga yang
telah dijanjikan Allah kepadamu”.

2. Istikharah, selalu mohon petunjuk kepada Allah dalam setiap langkah
dan penuh pertimbangan dalam setiap keputusan.

Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara dan melakukan suatu
perbuatan. Akan tetapi menurut Islam, tidak ada kebebasan yang tanpa
batas, dan batas-batas tersebut adalah aturan-aturan agama. Maka
seorang muslim yang benar, selalu berfikir berkali-kali sebelum
melakukan tindakan atau mengucapakan sebuah ucapan serta ia selalu
mohon petunjuk kepada Allah.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت.(رواه البخاري ومسلم
عن أبي هريرة

Barang siapa yang beriman kepad Allah dan hari akhir, maka berkatalah
yang baik atau diamlah. (HR Al-bukhari dan muslim dari Abu Hurairah)

Orang bijak berkata “Think today and speak tomorrow” (berfikirlah hari
ini dan berbicaralah besok).

Kalau ucapan itu tidak baik apalagi sampai menyakitkan orang lain maka
tahanlah, jangan diucapakn, sekalipun menahan ucapan tersebut terasa
sakit. Tapi apabila ucapan itu benar dan baik maka katakanlah jangan
ditahan sebab lidah kita menjadi lemas untuk bisa meneriakkan
kebenaran dan keadilan serta menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Mengenai kebebasan ini, malaikat jibril pernah datang kepada Nabi
muhammad Shallahu ‘alai wa salam untuk memberikan rambu kehidupan,
beliau bersabda:

أتاني جبريل فقال: يا محمد عش ما شئت فإنك ميت، وأحبب ما شئت فإنك مفارق،
واعمل ما شئت فإنك مجزي به. (رواه البيهقي عن جابر

Jibril telah datang kepadaku dan berkata: Hai Muhammad hiduplah
sesukamu, tapi sesungguhnya engkau suatu saat pasti akan mati,
cintailah apa yang engkau sukai tapi engkau suatua saat pasti
berpdisah juga dan lakukanlah yang engkau inginkan sesungguhny semua
itu ada balasannya.(HR. Baihaqi dan Jabir)

Sabda Nabi Shallahu alihi wasalam ini semakin penting untuk diresapi
ketika akhir akhir ini dengan dalih kebebasan, banyak orang berbicara
tanpa logika dan data yang benar dan bertindak sekehaendaknya tanpa
mengindahkan etika agama. Para pakar barang kali untuk saat saat ini,
lebih bijaksana untuk banyak mendengar daripada berbicara yang kadang
kadang justru membingungkan masyarakat.

Kita memasyarakatkan istikharah dalam segala langkah kita, agar kita
benar benar bertindak secara benar dan tidak menimbulkan kekecewaan di
kemudian hari.

Nabi Muhammad Shallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

ما خاب من استخار ولا ندم من استشار ولا عال من اقتصد.

Tidak rugi orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang
bermusyawarah dan tidak akan miskin orang yang hidupnya hemat. (HR.
Thabrani dari Anas)

2. Istighfar, yaitu selalu introspeksi diri dan mohon ampunan kepada Allah.

Setiap orang pernah melakukan kesalahan baik sebagai individu maupun
kesalahan sebagai sebuah bangsa. Setiap kesalahan dan dosa itu
sebenarnya penyakit yang merusak kehidupan kita. Oleh karena itu ia
harus diobati.

Tidak sedikit persoalan besar yang kita hadapi akhir akhir ini yang
diakibatkan kesalahan kita sendiri. Saatnya kita instrospeksi masa
lalu, memohon ampun kepada Allah, melakukan koreksi untuk menyongsong
masa depan yang lebih cerah dengan penuh keridloaan Allah.

Dalam persoalan ekonomi, jika rizki Allah tidak sampai kepada kita
disebabkan karena kesalahan kita, maka yang diobati adalah sifat malas
itu. Kita tidak boleh menjadi umat pemalas. Malas adalah bagian dari
musuh kita. Jika kesulitan ekonomi tersebut, karena kita kurang bisa
melakukan terobosan-terobosan yang produktif maka kreatifitas dan etos
kerja umat yang harus kita tumbuhkan.

Allah berfirman yang mengisahkan seruan Nabi hud Alaihissalam, kepada
kaumnya:

وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلْ
السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى
قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

“dan (Hud) berkata, hai kaumku, mohonlah ampun kepada tuhanmu lalu
bertaubatlah kepadakNya, niscaya di menurunkan hujan yang sangat deras
atasmu dan dia akan menambahkan kekuatan dan janganlah kamu berpaling
dengan berbuat dosa” (QS. 52)

Sekali lagi, tiada kehidupan yang sepi dari tantangan dan godaan. Agar
kita tetap tegar dan selamat dalam berbagai gelombang kehidupan, tidak
bisa tidak kita harus memiliki dan melakukan tiga amalan di atas
yaitu Istiqomah, Istikharah, Isrighfar.

Mudah mudahan Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menatap masa
depan dengan keimanan dan rahmayNya yang melimpah. Amin
Disusun oleh Ustadz Abbas Sofwan, Lc

JAWABAN PAK YUSRIL MENJAWAB PERTANYAAN SAYA TENTANG AHMADIYAH

Terima kasih atas doanya. Istilah “menggugat” dalam istilah hukum selalu dikaitkan dengan sengketa di bidang perdata dan tata usaha negara. Dalam kasus Ahmadiyah ini, bukan gugatan yang harus dilakukan, melainkan desakan kepada Presiden, termasuk kepada Menag, Mendagrdi dan Jaksa Agung, agar tidak ragu-ragu mengambil keputusan. Setelah adanya keputusan itu, jika masih terus dilanggar, maka kepolisian/kejaksaan dapat melakukan langkah hukum menindak mereka, dengan diawali penyelidikan, penydikan dan kemudian tuntutan pidana ke pengadilan. Tanpa keputusan Presiden dan tiga pejabat tinggi itu, kepolisian dan kejaksaan belum dapat beritindak atas nama hukum terhadap sebuah sebuah organisasi.

BUAT PAK YUSRIL IHZA MAHENDRA

Assalamu alaikum wr.wb.
Semoga pak Yusril dalam keadaan sehat dan diberikan kekuatan untuk terus memberikan pencerahan kepada masyarakat Indonesia sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku sekaligus sebagai pencerahan dan pembela umat muslim…

Sebelumnya saya atau kami sebagai umat muslim bisa tidak menggugat JAI telah melakukan penistaan dan pengrusakan akidah dan kaidah agama Islam? Apakah hak ini ada payung hukumnya pak? Sebab saya pribadi merasakan bahwa dengan adanya JAI ini benar-benar telah merusak ajaran agama Islam (dimana semua umat muslim walau berbeda mahzab, tetap sama dalam hal akidah Lailahaillallahu Muhammadarrasulullah), dan agama Islam juga merupakan agama yang sah diakui di republik ini. Jadi saya kira langkah yang tepat adalah memperjuangkan hak akidah agama kami?

Akan tetapi yang sangat meyedihkan para pemimpin negeri ini, koq begitu susah dan berlarut-larutnya memutuskan hal ini, sehingga terjadi pembakaran tempat ibadah JAI, secara pribadi saya sendiri, dari hati saya yang paling dalam sih sangat tidak setuju dengan pembakaran dan pengrusakan itu, harusnya yang kita kejar itu adalah para pemimpin republik ini yang secara hukum dan struktural berkewajiban memberikan solusi, yang lebih meyedihkan dan meyesakkan hati saya mereka secara KTP beragama Islam dan telah menunaikan ibadah haji, tetapi mereka tidak sedih dan terketuk hatinya ketika agama yang mereka anut di injak-injak ajarannya. Terus terang pak saya tidak habis pikir dengan sikap dan langkah yang mereka lakukan, padahal jikalau pak SBY dan jajarannya mengeleuarkan sikap dan keputusan melarang exist-nya organisasi JAI jika masih mengaku Islam dan menjamin keberadaannya jika mereka mau mengakui bahwa mereka bukan agama Islam, tetapi agama baru atau apalah, saya yakin seluruh umat muslim negeri ini akan mendukung dan berteriak Allahu akbar, memangnya harus takut kepada siapa? takut kepada siapa? hanya kepada Allah-lah hakiki-nya kita harus takut, dan ingat secara undang-undang mungkin presiden menjalankan pemerintahan berdasar konstitusi, tapi secara pribadi mereka adalah muslim, sebagai pemimpin dan sebagai seorang muslim akan diminta pertanggung jawabannya dihadapan Allah kelak, ataukah mereka takut dengan tokoh yang katanya ulama kesohor di negeri ini, yang tempo hari ini mengeluarkan argumen bahwa jikalau akan dipersidangkan pelarangan JAI ini, beliau akan menjadi salah satu pembelanya, naudzu billah min dzalik. saya memang penganut islam yang ilmunya sangat jauh dibawah beliau dan juga pak yusril, tapi saya sama sekali tidak menaruh respek kepda beliau, tidak akan pernah, yang paling menyedihkan lagi bahwa masih banyak juga umat muslim yang menjadi pendukungnya, beliau A pendukungnya A, beliau B pendukungnya juga B…

Pak yusril, dulu ketika bapak ke kota Kendari, kalo ga salah akhir tahun 90-an, dengan PBB, saya sangat menaruh simpati yang sangat tinggi, apalagi pak yusril melalui PBB akan memperjuangkan piagam Jakarta. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, gaungnya tidak terdengar lagi. Akhirnya sampai sekarang saya lebih memilih menjadi golput saja. Jika ada yang menyarankan Bapak pindah partai, jangan pak! sekali lagi saya mohon jangan pak, dan jangan pula sembarangan ber-koalisi dengan partai lain hanya untuk tujuan kekuasaan. Saya salah satu pengagum bapak, bapak pun orang pintar secara akademis, dan insya allah secara ilmu agama, saya sangat berharap bapak melalui partai bisa menjadi pembela Islam, tidak mengapa bapak tidak menjadi penguasa, tetaplah menjadi tokoh yang sederhana, pro rakyat, memperjuangkan Islam, mempersatukan umat Islam minimal di republik ini pak, memang mengapa kalau kita tidak jadi penguasa di dunia ini, tapi kita dikenang sebagai tokoh yang membela rakyat, membela Islam, Toh yang paling mulia adalah orang yang paling bertaqwa kepada Allah SWT. Pak sekali lagi saya mohon, di negeri ini sudah krisis ketokohan, hampir semua tokoh yang akan maju yang berkedok akan mensejahterakan rakyat, tapi lihatlah kenapa masih ada jarak antara mereka dengan rakyat, berjas berdasi, sedang rakyat hanya punya dua baju dan celana, satu dipakai sehari-hari, satu lagi dipakai untuk jumatan dan hari raya, mereka masih senang makan enak tapi lihatlah rakyat, bagusnya ada kenikmatan dalam senin-kamis bagi yang menunaikannya. Jadi tanggalkanlah pakaian mewah bapak, jadilah pemimpin yang sederhana, tapi kaya hati, jadilah pemimpin yang sering berpuasa lillahi ta’ala demi makannya rakyat ini, bukankan kita semua ingin kehidupan akhirat yang membahagiakan?

2015 Imam Mahdi Akan Datang

Judul lengkapnya kalau ga salah, Oktober 2015 Imam Mahdi akan datang, karya Jaber Bloushi, sayang saya tidak bisa menemukan referensi tentang biografi beliau, pendidikannya apa, condongnya ke mahzab mana, karya-karya apa aja, tetapi yang banyak di blog tu perdebatan antara setuju/tidak setuju dengan buku tersebut dan percaya/tidak percaya dengan ramalan itu.
Saya sendiri pas maen ke gramedia tertarik untuk melihatnya sekilas, wah rda asyik juga bahasannya pikirku, akhirnya saya beli beserta buku lainnya, nyampe rumah mulai deh bacanya.
Biasanya saya tuh kalo baca buku suka semangat banget, trus cepet nyerap ke pikiran, walau ga hafal-hafal amat, sehingga dari hal itu cepet baca bukunya. Buku apa aja, novel, biografi, ttg duniaku yaitu informatika, buku pencerahan jiwa, buku-buku tafsir, apalagi buku humor.
Tapi oh tetapi pas baca buku Jaber Bolushi itu, koq progressnya lama banget, dan hati kecil ini koq susah nerimanya, dan pikiran saya koq pengen berpaling dari tuh buku, ah akhirnya saya berhenti bacanya di lembar ke-7. Ya biarlah nanti saja lagi bacanya.
Duhai Allah limpahkan rahmat serta hidayahmu kepada hamba-hambamu dalam mencari ilmu. Amin Ya Rabbal ‘Alamin………….

FROM ERA MUSLIM DOT COM

INI ADA BAHAN RENUNGAN BAGUS>>

Ahmad Heriyawan, Ustadz yang Jadi Gubernur

Selasa, 15 Apr 08 07:38 WIB

Kirim teman

Assalaamu’alaykum warrahmatullaahi wabarakaatuhu

Ustadz yang saya hormati, alhamdulillah, di tengah berlanjutnya (entah sampai kapan?) polemik demokrasi di kalangan umat Islam, pasangan calon dari parpol Islam yang lahir dari kawah reformasi, “berhasil” meraih kemenangan di salah satu pilkada terbesar di Indonesia. Melihat pemaparan Ustadz tentang lembaga pendidikan yang jadi almamater salah satu calon, optimisme saya semakin tumbuh bahwa memang kapabilitas beliau “jaminan mutu.”

Banyak sementara ini (dalam waktu singkat begiut quick count diumumkan) analisis yang dikemukakan pengamat sampai orang awam. Bagaimana analisis/apresiasi Ustadz terhadap (sebab2) kemenangan kombinasi Ustadz-Artis itu serta pelajaranyangbisa diambil?

Bagaimana sebenarnya tuntunan Islam dalam menyikapi teraihnya kemenangan kepemimpinan? Apakah dengan hamdalah atau istighfar? Apa sujud syukur atau tangis? Ataukah lebih dari sekedar itu?

Bagaimana juga tuntunan Islam terkait peran rakyat sebagai yang dipimpin? Apa sajakah peran signifikan yang bisa dilakukan untuk perubahan setelah mencoblos di bilik suara?

Terus, apakah bisa jadi, terkait tingginya golput, itu merupakan bukti keberhasilan dakwah HT dan Salafy?

Terakhir, semoga Ustadz senantiasa bertulushati memberi taushiyah langsung kepada sang Uztadz Gubernur kelak, kan sekalian juga jadi arena praktikum nyata kuliah-kuliah Politik Islam di kampus…(afwan, bukan bermaksud lancang).

Jazakumulah khayran katsiira…

Wassalaamu’alaykum warrahmatullaahi wabarakaatuhu.

Zakaria Ahmad

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Al-Ustadz Ahmad Heriyawan, Lc, sang peserta PILKADA JABAR yang disebut-sebut akan menjadi Gubernur Jawa Barat memang lulusan dari LIPIA. Kami secara pribadi memang mengenal beliau, bukan semata-mata karena satu almamater, tetapi memang beliau teman kami dalam berdakwah, sejak tahun 90-an.

Bahkan beliau yang asal Sukabumi pernah mengajak kami ziarah ke kampung halamannya, bertemu dengan keluarga dan murid-murid beliau. Kami berdakwah bersama dan mabit bersama. Meski beliau telah lulus terlebih dahulu, karena memang beda angkatan kuliah cukup jauh.

Yang kami kenal dari pribadi beliau adalah bahwa beliau orang baik, lulus LIPIA dengan nilai yang juga memuaskan. Pemahaman syariah beliausangat baik, tentunya beliau sangat fasih berbahasa Arab dan melek literatur kitab gundul, selain itu beliau juga seorang pembelajar yang cepat.

Jarang-jarang ada lulusan LIPIA yang bisa dengan cepat belajar bidang kehidupan lainnya. Dan ketika beliau terpilih menjadi anggota DPRD DKI, tentu sebuah loncatan yang cukup besar, karena ilmu yang beliau terima secara formal dari bangku kuliah tentu saja tidak pernah mengajarkan dinamika kehidupan seorang wakil rakyat.

Diskursus: Dakwah Inside atau Outside?

Yang kami pahami dari apa yang sedang diupayakan oleh beliau dan teman-teman adalah memperjuangkan tegaknya nilai agama Islam lewat jalur internal kekuasaan. Ini yang kami sebut kemudiandengan teori ‘dakwah inside’.

Pada dasarnya tidak ada yang menampik pentingnya umat Islam berjuang di wilayah ini. Dan tentunya akan jauh lebih efektif ketimbang sekedar berjuang dari luar (Ouside), yang jangkauannya hanya sekedar menghimbau kepada penguasa, atau sekedar mengkritik, memberi masukan, atau sekedar bersorak sorai, ibarat penonton sepak bola.

Kadang-kadang tepuk tangan para suporter di pinggir lapangan memang dibutuhkan, untuk memberi masukan dan semangat. Akan tetapi pada akhirnya, permainan akan sangat tergantung dari para pemain yang ada di lapangan.

Perjuangan umat Islam sejak dulu masih sebatas penonton yang bersorak sorai dari pinggir lapangan. Aspirasi mereka paling jauh hanya dititipkan kepada orang-orang yang mereka kenal sepintas, tanpa punya visi dan idealisme yang jelas. Maklumnya, kancah politik memang diisilebih banyakoleh kalangan oportunis yang sekedar mengejar keuntungan sesaat.

Maka teori dakwah sebagian teman-teman kita itu adalah masuk langsung ke kancah politik praktis. Atau istilahnya ‘mengambil alih’ lapangan dari yang tadinya hanya sekedar menjadi penonton di pinggir garis lapangan. Logikanya sederhana saja, yaitu masuk ke dalam, ambil alih dan perbaiki dari dalam. Jauh lebih sederhana dari pada bikin negara baru yang tentunya merupakan makar dan subversi.

Dakwah Outside

Namun jugaharus diakui bahwa teori seperti ini masih seringkali diperdebatkan oleh banyak kalangan. Sebagian kalangan muslim ada yang apatis, seperti yang anda sebutkan, yaitu Hizbut Tahrir, Salafi atau kalangan lainnya. Sikap apatis mereka ini mungkin bisa diterangkan begini: rumah ini sudah sangat rusak dan hanya barang rongsokan, dari pada diperbaiki yang akan membutuhkan resourses besar, mendingan dirobohkan sekalian, lalu dibikin lagi dari awal bangunan baru.

Mereka ini kita sebut sebagai aliran atau mazhab Outside.

Fenomenanya, banyak dari mereka yang tidak mau ikut pilkada atau pemilu, karena mereka menganggap bahwa pekerjaan memperbaiki rumah rongsok akan sia-sia saja.

Tentu semua itu adalah pilihan, atau kalau dalam istilah fiqih yang akrab di telinga kita, semua itu adalah ijtihad. Yah, namanya ijtihad, bisa benar dan bisa salah. Tentu masing-masing mazhab punya hujjah dan argumentasi. Dan tidak layak buat kita untuk mencaci maki pihak yang punya ijtihad berbeda dengan ijtihad kita sendiri.

Apalagi kita tahu bahwa masing-masing ijtihad itu punya konsep, hujjah, metodologi dan juga pendukung. Tentu akan menjadi lucu kalau kita malah berantem dan bermusuhan dengan sesama muslim, hanya lantaran ijtihadnya berbeda. Kalau dalam ilmu fiqih ibadah kita bisa bertoleransi, lalu kenapa dalam fiqih politik kita agak gamang untuk bertoleransi.

Pro Kontra

Terus terang ketika Al-Akh Heriawan mulai nampak unggul dalam Quick Count kemarin, kami sempat ngobrol lewat chating dengan beberapa pihak yang selama ini boleh dibilang agak mewakili kalangan yang ijtihadnya berbeda.

Komentar mereka beragam, ada yang bilang bahwa kemenangan HADE itu hanya karena faktor Dede Yusuf yang seorang aktor, yang lain bilang bahwa itu hanya sebuah fenomena anomali saja, yang lain bilang itu istidroj, entah maksudnya apa. Dan yang lainnya lagi bilang bahwa ‘kemenangan’ itu karena faktor ‘lucky‘, lantaran para mesin kampanye pesaingnya kurang tenaga.

Tentu kami bisa memaklumi komentar-komentar seperti ini, karena wajar saja mereka bilang begitu, sebab secara ijtihad, mereka memang tidak mendukung hasil ijitihad Al-Akh Heriyawan dan teman-temannya.

Tapi kemenangan mereka sebenarnya memang boleh dibilangcukup mengejutkan. Yang merasa terkejutbukan hanya di kalangan ’seberang jalan’, tapi juga di kalangan ‘rumah sendiri’. Awalnya memang banyak yang merasa miris atau malah sangat pesimis, tapi ketika hasil malah menang, diskusi jadi semakin hangat.

Jalan Tengah

Kalau melihat dua sisi pendakatan yang berbeda dari sesama para aktifias dakwah, rasanya kita perlu sebuah jalan tengah. Jalan tengah ini bukan plin-plan, tetapi justru tidak fatalis. Tidak secara ekstrim menolak satu pendapat dan juga tidak secara sepenuhnya mendukung satu pendapat.

Setidaknyamenurut anggapan kami yang terbaik adalah kita mencari jalan tengah. Bentuknya mendukung yang sekiranya memang perlu didukung dan menahan apa yang sekiranya perlu ditahan. Tidak ekstrim dan pasrah bongkokan.

Kita harus menghormati setiap ijtihad yang berkembang, tanpa harus bersikap negatif atas apa yang sekiranya berbeda. Dengan beberapa tekad kuat di dalam dada yang harus kita tanam, antara lain:

1. Menghindari Berbantah-bantahan Dengan Sesama Duat

Kalau kita kita tidak berhenti dari berdebat dan berbantah-bantahan dari tema inside dan outside ini, maka lama kelamaan kita sendiri yang akan perang saudara. Bukannya berjuang menegakkan dakwah, kita malah jadi pembangkang nilai agama kita sendiri.

Dahulu para shahabat nabi juga pernah berbantah-bantahan seperti ini. Bukan karena niat mereka buruk, tapi karena sudut pandang mereka tidak jadi satu. Maka dari langit turun taujih rabbani:

Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfa: 46)

Jangan sampai kita malah berakhlaq yahudi, dengan asyiksaling berbantahan sendiri dengan sesama pejuang dakwah. Sementara Al-Quran menceritakan bagaimana dahulu Bani Israel berbantah-bantahan sesama mereka, yaitu pada saat genting di mana mereka harus menghadapi kekuatan Fir’aun.

Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka dan mereka merahasiakan percakapan. (QS. Thaha: 62)

2. Berhenti Dari Saling Mencela

Berbantah-bantahan di atas kalau tidak segera dihentikan, biasanya akan menjalar menjadi saling caci, saling cela, saling maki dan saling menghina.

Akan sangat disayangkan kalau majelis-majelis taklim yang awalnya digunakan untuk mempelajari ilmu Allah dan sunnah Rasul-Nya, kadang ganti channel menjadi kajian untuk menjelek-jelekkan tokoh yang dianggapnya berseberangan ijtihad politik.

Majelis yang seharusnya didengar di dalamnya firmanAllah, jangan sampaiberubah jadi majelis untuk mendengarkan perkataan manusia, lengkap dengan hawa nafsunya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Hujurat: 11)

3. Hindari Prasangka Buruk

Terkadang sikap yang sangat ekstrim lahir dari prasangka buruk antar sesama pejuang dakwah. Yang satu menuduh temannya salah, yang dituduh tidak terima, balas menuduh saudaranya salah.

Yang satu menuduh bahwa dakwah lewat jalur politik hanya sekedar kedok belaka, padahal sebenarnya semata-mata hanya kepentingan duniawi, bergelimang dengan harta, pamer kemewahan, mengikuti hawa nafsu, baik nafsu kekuasaan atau nafsu ‘kawin lagi’.

Yang dituduh tidak terima, lalu bereaksi dengan segala improvisasi yang sekiranya memuaskan rasa ketersinggungannya. Dan ganti menuduh bahwa para penuduhnya adalah ‘barisan tua’ yang sakit hati karena tidak punya potensi.

Pendeknya, prasangka buruk itu memang ajaib, sekali satu pihak melontarkannya, maka akan langsung meletup menyambar-nyambar ke sana kemari, persis bensin dilempari puntung rokok.

Padahal kita masih aktif membaca Al-Quran, dan salah satunya yang masih terngiang saat kami menuliskan tulisan ini menjelang adzan shubuh adalah firman Allah berikut ini:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat: 12)

Sebagai muslim, kami agak merinding kalau mendengar ayat ini, sebab permisalan yang Allah SWT gambarkan memang sadis sekali. Ketika kita berburuk sangka kepada saudara kita, lalu menggunjingkannya, atau mencari-cari titik kelemahannya, kita dikatakan seperti sedang memakan daging saudara kita itu. Benar-benar kanibal akhlaq seorang muslim ketika melakukannya.

Pesan Buat ‘calon’ Gubernur

Kami memang agak lama tidak bertemu langsung dengan Al-Akh Ahmad Heriyawan, mungkin karena kesibukan masing-masing. Tapi lepas dari kami ikut mazhab yang mana, apakah inside atau outside, namun sebagai muslim, beliau adalah saudara kami.

Kalau seandainya jabatan Gubernur Jawa Barat itu memang jadi dibebankan ke pundaknya, tentu saja kami yakin beliau tidak akan menyebutnya sebagai kenikmatan. Kami yakin beliau akan menyebutnya amanat, beban, taklif, dan tentunya sebuah pertaruhan besar.

Bagaimana tidak, beliau akan bekerja under preassure. Dan tekanan itubukan saja dari kalangan ’seberang jalan’, tetapi juga dari dalam ‘rumah sendiri’. Maka beliau sekarang ini ibarat orang berjalan di atas titian rambut dibelah tujuh.

Maka sebagai muslim, ada beberapa tips yang mungkin beliau akan bisa mempertimbangkannya. Misalnya:

1. Pola Hidup Sederhana

Beliau lahir dari kalangan orang biasa, bukan orang yang kaya raya. Jadi kalau sekedar berpola hidup sederhana, merakyat, dan dekat dengan kalangan bawah, tentu bukan masalah besar.

Kami masih ingat ketika dahulu sama-sama makan di warteg karena kelaparan. Jadi kalau sekarang sering-sering makan di warung makan rakyat, dengan lauk seadanya, pasti bukan hal yang sulit.

Cerita tentang Said bin Amir, Gubernur Himsh di masa khilafah Umar bin Al-Khattab, yang hanya punya satu baju, pasti pernah beliau baca. Karena kisah itu ada di buku Al-Arabiyyah lin Nasyiin jilid 5. Sebuah kitab pelajaran bahasa Arab yang menjadi pegangan semua mahasiswa LIPIA di masa itu.

Kenapa kami mulai dari gaya hidup sederahana?

Karena boleh jadi janji beliau untuk mensejahterakan rakyat tidak kesampaian, karena ruwetnya birokrasi yang sudah jadi mafia tersendiri. Pada saat rakyat kelaparan, maka kalau pak Gubernurnya juga ikut kelaparan, rakyat pun akan memaklumi.

Tapi kalau rakyat kelaparan, sementara mereka lihat pak Gubernur lagi asyik makan-makan dengan kolega di restoran mewah di Bandung, itu namanya mushibah kubro.

Maka sesekali bikin sensasi tidak mengapa, kan? Misalnya, beliau menerima tamu bukan di kantor Gubernur, tapi di tengah rumah-rumah kumuh rakyat Jawa Barat, atau di tengah timbunan sampah yang menggunung dan pernah memakan korban di Bandung. Di sanalah seharusnya pak Gubernur berkantor, yaitu di tengah problem yang sebenarnya.

Jangan kalah dengan Ahmadinejat yang konon rumahnya berdinding bata tanpa plesteran. Dan tidak perlu ke Iran untuk sekedar mencari tokoh pujaan, wong di negeri sendiri juga ada. Bisa bahasa sunda lagi.

2. Perang Lawan Mafioso Membangun SDM

Sudah bukan rahasia lagi bahwa pusat penyamun di negeri ini bukan di daerah kumuh, tapi justru adanya di pusat pemerintahan. Perampok, penjahat, kriminalis, penodong, penjarah dan penipu tidak berkumpul di dalam penjara, tapi mereka justru berada di pusat-pusat kekuasaan.

Jadi Al-Akh Heriayawan dan Dede Yusuf akan dikelilingi oleh para gembong mafioso, yang berpengalaman puluhan tahun, bahkan turun temurun. Kalau perlu dengan hasil penjarahan mereka selama ini, Jawab Barat bisa dibeli.

Pilihannya ada tiga: ikut bergabung jadi bagian integral dari gabungan para mafia itu, atau perang habis-habisan sampai tetes darah penghabisan, atau main mata dan setengah-setengah.

Kita belum tahu apa jurus yang akan dipakai, dan mana pilihan yang akan disepakati. Seharusnya sih pilihan kedua, yaitu perang habis-habisan sampai tetes darah penghabisan melawat para mafia. Pecat dan bubarkan gerombolan mafioso birokrasi itu dan siapkan penjara. Potong sampai ke akar-akarnya, biar tidak tumbuh lagi.

Tapi karena tingkat dukungan yang mereka punya tidak maksimal, boleh jadi semua kebijakan dan itikad baik mereka ‘diveto’ oleh teman-temannya para mafia. Nah, ini berarti tantangan tersendiri. Pilih perang Bubat atau main mata.

3. Membangun SDM

Tapi satu hal yang perlu dipikirkan segara adalah membangun SDM secara khusus untuk menjadi pegawai pemda Jawa Barat ke depan. Para mafioso tidak akan berkutik kalau para pegawai pemdanya bukan orang, tapi ‘malaikat’, setidaknya ’setengah malaikat’.

Sehebat-hebatnya dan seustadz-ustadznya sang Gubernur, kalau pegawai pemdanya masih ‘orang’, pasti akan berputar-putar dan jalan di tempat. Prinsipnya, ganti dulu pegawai pemda dengan bukan orang, tapi ‘malaikat’.

Dari mana bisa didapat malaikat di abad 21 ini? Dari langit?

Tidak, wujud pisiknya tetap manusia, tapi hatinya yang malaikat. Dan orang-orang jujur dan baik serta bermoral masih ada di penghujung kiamat ini.

Carilah mereka, sejak dari masih bibitnya. Kuliahkan mereka di sebuah kampus khusus untuk mencetak bibit unggul dakwah, yang secara khusus nantinya akan menjadi pegawai pemda.

Idealnya kampus mereka berisi mahasiswa unggulan dengan IPK tertinggi se Jawa Barat, diajar oleh para doktor ahli syariah, para huffadz (penghafal Quran), para muhaddits (ahli hadits), para pakar ahli hukum tata negara, dan beragam ilmu lain yang diperlukan. Tentunya materi akhlaq, moral, kejujuran, kesederhanaan, kepedulian kepada rakyat miskin menjadi ‘mata kuliah’ MKDU. Menyebutnya gampang, pokoknya yang tidak ada di IPDN.

Diharapkan nantinya akan lahir PNS-PNS yang ’setengah malaikat’, yang tidak doyan duit tapi doyan pahala.

Yang mentalnya digodok seperti Umar bin Al-Khattab dan para gubernurnya. Yang terobsesi untuk punya ‘baju satu kering di badan’. Yang tidak mempan sogokan karena isterinya pun tidak doyan belanja. Yang akan mematikan lampu kalau bicara urusan di luar kepentingan negara, karena minyak lampu itu dibiayai negara.

Yakinlah bahwa kampus seperti ini bisa diciptakan, asalkan punya tekat kuat. Tidak boleh ada orang jadi pegawai Pemda kecuali telah lulus dari kampus ini. Dan tidak ada yang lulus kecuali telah menjadi ’setengah malaikat’.

Pegawai negeri biasa jelas tidak bisa diandalkan, apalagi hanya dengan cara diseleksi lewat psikotest yang buku jawabannya dijual bebas di toko buku. Sama sekali tidak ada jaminan moral dan jiwa kepemimpinan. Sejak sebelum masuk jadi PNS sudah berhutang duit banyak untuk menyogok, dan ketika sudah jadi PNS maka misi utamanya adalah bayar hutang plus keuntungan. Bejat dan bejat sangat.

4. Segera Bayar Hutang Secara Cash

Kalau tidak salah biaya kampanye pilkada sampai 12 milyar, setidaknya itu yang dikemukakan ke muka pers. Pertanyaannya, uang sedege itu pasti ada taruhannya plus ‘harapan’.

Logikanya, sangat tidak mungkin ada pihak yang mau membiayai dana sebesar itu kalau bukan ada apa-apanya di belakang. Maka saran kami, segera saja bayar uang itu secepatnya, agar si investornya tidak minta ini dan itu.

Sebabyang berbahaya justru tagihan minta ini dan minta itu dari para investor. Inilah yang membuat penguasa sekarang sangat gamang ketika bertindak, karena ‘terjerat’ hutang kepada para pedagang. Banyak rejim penguasa tidak berani bertindak tegas kepada para pedagang, karenaberhutang budi kepada para pedagang yang dengan ‘tidak ikhlas’ telah memodali biaya kampanye.

Tentu kompensasi adalah harapan para pedagang, dan itu akan sangat mengganggu kinerja penguasa. Jadi saran kami, bayarkan secepatnya hutang kepada para pedagang mereka, dan setelah itu pecat mereka semua secepatnya.

Biar tidak mengganggu stabilitas kebijakan dalam kepemimpinan ke depan. Biar tidak ada lagi ‘main mata’ dengan para pengusaha nakal dan liar itu.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Hidup Kok Muter-muter…

Hijrahlah Kepada Allah dan RasulNya

Janganlah engkau berjalan dari satu alam ke alam lain, sehingga seperti binatang himar yang berputar, mengitari gilingan. Tempat ia berangkat adalah tempat yang ia tuju. Namun berangkatlah dari satu alam menuju pencipta alam, : (Dan kepada Tuhanmulah tempat tujuan akhir). Renungkan sabda Rasulullah SAW, “Siapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Siapa yang hijrahnya demi dunia, ia akan meraihnya, atau kepada wanita, ia dapat menikahinya. Hijrah seseorang tergantung apa yang dijadikan tujuan hijrahnya. Pahamilah sabda Nabi itu, bahwa hijrah itu tergantung apa yang dijadikan tujuan hijrahnya. Renungilah persoalan ini, jika anda punya pemahaman yang benar.”

Tidak ada kehidupan yang sia-sia, ibadah yang hampa, melainkan jika anda berjalan dari alam ke alam lain, sama sekali tidak menuju kepada Pencipta alam semesta. Kenapa diibaratkan pada himar itu? Sebab yang dicari himar tidak lebih dari upahnya, yaitu bisa makan dan minum dari tuannya. Apakah kita beribadah juga hanya mencari upah dari Allah? Bukan menuju kepada Allah dan menghadap kepadaNya?

Fakta menunjukkan mayoritas orang beribadah kepada Allah, bukan demi dan menuju Allah, tetapi demi kepentingan dirinya, demi kepentingan dunianya, bahkan demi akhirat. Padahal demi diri, demi dunia dan demi akhirat, semuanya itu termasuk alam, yaitu ciptaan Allah Ta’ala. Jika demikian kita akan mengalami kesulitan Liqa’ Allah (bertemu allah), karena kita tidak menuju kepadaNya.

Mestinya kita menyadari bahwa kita ini berasal dari Allah, dan kemana lagi kalau bukan menuju kepada Allah?

Hikmah ini sungguh menegur kita. Betapa banyak yang kita lakukan atas nama Allah, atas nama agama, atas nama perjuangan, tetapi tidak tertuju kepada Allah, namun demi kepentingan hawa nafsu kita sendiri.

Seluruh ubudiyah kita harus kita hijrahkan kepada Allah dan RasulNya. Kepada Allahlah orientasi amal ibadah kita, dengan cara mengikuti jejak Rasulullah SAW, demi cintaNya dan cinta KekasihNya itu.

Segala hal selain Allah dan RasulNya sungguh sia-sia dan hampa. Selama ini barangkali ada ketakutan dan kekawatiran jika orientasi anda adalah Allah dan RasulNya, kemudian anda kehilangan pekerjaan dan rizki Allah. Padahal sebaliknya, jika kita kerja, berbuat apa saja, demi Allah dan membela Rasulullah SAW, justru akan terbuka pintu rizkiNya.

Namun jangan seperti suatu gerakan yang membela Allah dan RasulNya, tetapi ujungnya adalah sikap-sikap radikal dan jauh dari orintasi jiwa yang menghadap Allah. Tetapi orientasinya menang, bangga, dan kesombongan yang penuh arogan,. Justru ia semakin jauh dari Allah, walau pun berpakaian, seakan-akan seperti Ahlullah, ahli ibadah.

Manusia yang bisa berhijrah kepada Allah, adalah manusia yang pergi menuju CahayaNya. Bukan kembali ke alam kegelapan dunia. Manusia inilah yang kelak bisa memandang dunia dengan kecamata Ilahiyah, bukan dengan kacamata dunia yang gelap.

From: sufinews.com

Malu

Rasulullah SAW bersabda:

“Malulah kalian di hadapan Allah dengan malu yang sesungguhnya.” Para sahabat berkata, “Kami, sudah merasa malu wahai Nabi Allah, dan segala puji bagiNya.” Lalu beliau bersabda, “Itu bukan malu yang sesungguhnya. Orang yang hendak malu dengan sesungguhnya di hadapan Allah swt, hendaklah menjaga pikiran dan bisikan hatinya, menjaga perut dan apa yang dimakannya dan hendaklah ia mengingat mati serta fitnah kubur. Orang yang menghendaki akhirat hendaknya meninggalkan perihiasan duniawi. Orang yang melakukan semua ini berarti memiliki malu yang sesungguhnya di hadapan Allah.” (HR. Tirmidzi dan Hakim).

Ada lima tanda celaka manusia: Hati yang keras; mata yang bengis; tidak ada rasa malu; hasrat terhadap dunia; dan lamunan yang tak terhingga. (Al-Fudhail bin ‘Iyadh).

HambaKu telah memperlakukan Aku dengan tidak adil. Ia berdoa kepadaKu dan Aku merasa malu jika tidak mengabulkan doanya. Tapi ia terus bermaksiat kepadaKu tanpa merasa malu kepadaKu. (Firman Allah dalam salah satu Kitab Allah)

Malu adalah mengerutnya hati manusia untuk mengagungkan kebesaran Allah.
(Kata salah seorang sufi)
Ketika aku sholat dua rekaat, tiba-tiba aku mebatalkannya, karena aku merasa malu dihadapan Allah seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.
(Abu Bakr al-Warraq)